KADER : TULANG PUNGGUNG REVOLUSI

KADER : TULANG PUNGGUNG REVOLUSI
Che Guevara (September 1962)

Artikel ini dimuat dalam Jurnal bulanan Cuba Socialista (edisi September 1962)

Teks terjemahan diambil dari situs indo-marxist.net

Tak perlu lagi untuk meragukan watak khas revolusi kita,tentang hal-ikhwalnya, dengan semangat spontanitasnya, yakni transisi yang berlangsung dari revolusi pembebasan nasional menuju revolusi sosialisme. Dan tak perlu pula meragukan peningkatan pesat dari tahap-tahap perkembangannya, yang dipimpin oleh orang-orang yang sama yang ikut serta dalam peristiwa heroik penyerangan garnisun Moncada, berlanjut melalui pendaratan Granma, dan memuncak pada deklarasi watak sosialis dari revolusi Kuba. Para simpatisan baru, kader-kader, dan organisasi-organisasi membentuk sebuah strukfur organisasional yang pada awal gerakan masih lemah, sampai kemudian berubah menjadi luapan rakyat yang akhirnya mencirikan revolusi kita.

Ketika kemudian menjadi nyata bahwa suatu kelas sosial baru secara tegas mengambil alih kepemimpinan di Kuba, kita juga menyaksikan keterbatasan yang besar dalam menggunakan kekuasaan negara karena adanya kondisi-kondisi yang kita temukan di dalam tubuh negara. Tidak ada kader untuk melaksanakan sejumlah besar pekerjaan yang harus diisi dalam aparat negara, dalam organisasi-oganisasi politik, dan seluruh front ekonomi.

Segera setelah kekuasaan berhasil direbut, pos-pos birokratik hanya diisi dengan cara ‘asal tunjuk’ saja. Tidak menimbulkan masalah yang besar–tidak satupun karena struktur lama belum dihancurkan. Aparat berfungsi lamban dan tertatih tatih seperti sesuatu yang tua dan hampir mati. Tapi ia memiliki organisasi dan di dalam organisasi yang- memadai untuk mempertahankan dirinya melalui kelembaman, melecehkan perubahan-perubahan politik sebagai awal bagi perubahan struktur ekonomi.

Gerakan 26 Juli yang masih disibukkan oleh pertarungan internal sayap kanan dan sayap kiri, tidak bisa mencurahkan dirinya untuk tugas-tugas pembangunan. Dan Partai Sosialis popular yang karena terlampau lama mengalami serangan-serangan keji dan bergerak di bawah tanah selama bertahun-tahun, tidak mampu mengembangkan kader-kader menengah untuk menangani tanggung jawab baru.

Ketika campur tangan negara yang pertama kali dalam ekonomi berlangsung (1), tugas-tugas menemukan kader tidaklah terlalu rumit, dan memungkinkan untuk memilih diantara rakyat yang telah memiliki basis minimum untuk menjalankan posisi-posisi kepemimpinan. Tetapi dengan percepatan proses yang dimulai dengan nasionalisasi perusahaan-perusahaan Amerika dan kemudian disusul dengan perusahan-perusahaan besar Kuba, kebutuhan nyata untuk teknisi-keknisi administrasi mulai muncul. Di sisi lain, kebutuhan akan teknisi-teknisi produksi dirasakan semakin mendesak. krena larinya banyak teknisi yang tertarik oleh posisi-posisi yang lebih baik yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaaan imperialis di AS atau di negeri Amerika Latin lainnya. Sementara sibuk dengan tugas-tugas organisasional ini, aparat-aparat politik harus melakukan upaya yang gigih untuk memperhatikan masalah ideologi kepada massa yang bergabung dalam revolusi dan berhasrat besar untuk belajar.

Kita semua telah berusaha menjalankan peran sebaik mungkin, tapi bukannya tanpa ada masalah dan kekecewaan. Banyak kekeliruan yang dilakukan dalam bidang administratif di tingkat eksekutif pusat. Banyak kesalahan telah dibuat oleh para administratur baru di perusahaan-perusahaan yang sarat dengan tanggung jawab besar. Kita juga mengakui adanya-kekeliruan besar dan mahal yang dilakukan oleh aparat-aparat politk, yang sedikit demi sedikit merosot menjadi birokrasi yang melenakan.dan menghanyutkan, yang dijadikan sebagai batu loncatan untuk pos-pos birokratik yang penting atau kurang penting yang pada akhirnya memisahkan mereka dari massa.

Penyebab utama dari kekeliruan-kekeliruan kita adalah kurang memahami kenyataan yang ada. Selain itu, kita kekurangan perangkat, yang menumpulkan pandangan kita dan membelokkanpartai menjadi sebuah organisasi birokratik, yang membahayakan administrasi dan produksi, kita kekurangan kader-kader maju pada tingkat menengah. Ini merupakan bukti bahwa pengembangan kader sama artinya dengan kebijakan turun ke massa. Semboyannya adalah sekali lagi untuk menegakkan kontak dengan massa, kontak yang dipelihara terus oleh revolusi pada masa-masa awalnya.tapi ini harus ditegakkan melalui mekanisme yang mampu memberikan hasil-hasil yang paling menguntungkan baik bagi kepentingan sentimen massa maupun dalam penyampaian kepemimpinanpolitik, yang di banyak kasus hanya diberikan melalui campur tangan PM Fidel Castro atau beberapa pimpinan revolusi lainnya.

Pada titik ini kita dapat mengajukan pertanyaan : apakah itu kader ? kita harusmenyatakan bahwa seorang kader adalah seorang individu yang telah mencapai perkembangan politik yang cukup mampu menafsirkan petunjuk-petunjuk yang lebih besar berasal dari kekuasaan pusat menjadikanya sebagai miliknyadan memegangnya sebagai suatu orientasi ke massa ; seseorang yang pada saat yang sama harus juga mampu menafsirkan isyarat-isyarat yang dimunculkan oleh massa mengenai keinginan-keinginan dan motivasi mereka yang paling dalam.

Seorang kader adalah seorang yang memiliki disiplin ideologis dan administratif, yang mengetahui dan mempraktekkan sentralisme-demokrasi dan yang mengetahui bagaimana mempraktekkan azas diskusi kolektif dan pengambilan keputusan serta tanggung jawabnya masing-masing. Ia adalah seorang individu yang telah terbukti kesetiaannya, yang keberanian lahiriah dan moralnya telah berkembang seiring dengan perkembangan ideologisnya, yang dengan demikian ia selalu berkeinginan untuk menghadapi setiap perdebatan dan bahkan menyerahkan seluruh hidupnya untuk kejayaan revolusi. Sebagai tambahan, ia juga seorang individu yang dapat berfikir berdikari, yang mampu membuat keputusan-keputusan yang diperlukan dan melakukap prakarsa kreatif yang tidak bertentangan dengan disiplin.

Karenanya, kader adalah seorang pencipta, seorang pemimpin yang berpendirian kukuh, seorang teknisi dengan tingkat politik yang baik, yang memegang prinsip dialektika untuk memajukan sektor produksinya, atau mengembangkan massa dari posisi kepemimpinan politiknya.

Manusia teladan ini, yang dari luar nampak seolah-olah tingkat kebajikannya itu sulit dicapai, ternyata hadir diantara rakyat Kuba, dan kita menemuinya tiap hari. Hal yang pokok sebetulnya adalah mengambil manfaat dari setiap peluang yang ada guna mengembangkan mereka semaksimal mungkin, untuk mendidiknya, untuk menarik manfaat yang paling besar dari setiap kader dan mengalihkannya menjadi nilai tertinggi bagi kepentingan bangsa.

Pengembangan saorang kader dicapai melalui pelaksanaan tugas-tugas setiap hari. Selain itu, tugas-tugas itu harus dijalankan secara sistematik, di dalam sekolah-sekolah khusus, diajar oleh pengajar yang kompeten–yang memberikan teladan bagi murid-muridnya–akan mendorong kemajuan ideologis yang paling pesat .

Dalam sebuah sistem yang sedang mulai membangun sosialisme, jelas kader harus maju secara politik. Selain itu, bila kita mempertimbangkan perkembangan politiknya, kita tidak hanya memperhitungkan teori Marxist. Kita harus juga menuntut tanggungjawab dari individu terhadap tindakan-tindakannya, sebuah disiplin yang mengendalikan setiap kelemahan dan yang tidak menghambat lahirnya prakarsa Dan kita harus mgnuntut kekhusukkannya yang terus-menerus terhadap semua masalah-masalah revolusi. Untuk dapat mengembangkan seorang kader, kita harus memulai dengan menegakkan prinsip seleksi diantara massa. Di sana lah kita menemukan individu-individu yang berkembang, yang diuji oleh pengorbanan atau yang baru mulai menunjukkan kepeduliannya dan menugaskan mereka ke tempat-tempat belajar khusus ; atau bila belum ada sekolah-sekolah sedemikian, berikan mereka tanggung jawab yang lebih sehingga mereka teruji dalam kerja praktek.

Dengan cara ini kita telah menemukan sejumlah besar kader-kader baru di tahun-tahun belakangan ini. Tapi perkembanqan mereka tidaklah sama, ketika kawan-kawan muda itu harus menghadapi kenyataan dimana kemunculan pera revolusioner itu tanpa kepemimpinan partai yang memadai. Beberapa diantaranya memang benar-benar berhasil, tetapi lainnya tidak dapat menyelesaikannya dan terputus di tengah jalan Atau lenyap begitu saja ditelan labirin birokrasi, atau terperosok ke dalam godaan-godaan kekuasaan.

Untuk menjamin kemenangan dan konsolidasi menyeluruh dari revolusi, kita harus mengembangkan berbagai jenis kader yagn berbeda. Kita membutuhkan kader politik yang akan menjadi fondasi bagi organisasi-organisasi massa, dan yang akan memimpin massa melalui aksi Partai Persatuan Revolusi Sosialis (2). (Kita telah mulai meletakkan fondasi ini bersama Sekolah Pengajaran Revolusioner, tingkat nasional dan propinsi dan bersama kelompo-kelompok pengkajian dan studi di semua tingkatan). Kita juga membutuhkan kader-kader militer. Untuk mencapai itu kita dapat memanfaatkan proses seleksi selama perang yang dibuat diantara pejuang-pejuang muda kita. Karena, banyak diantara mereka yang masih hidup tapi tanpa pengetahuan teoritik yang cukup, tapi mereka teruji di bawah siraman peluru. Mereka teruji di dalam keadaan perjuangan yang paling su1it, dengan kesetiaan yang telah terbukti kepada rejim revolusioner seJak kelahiran dan perkembangannya, mereka berkait erat semenjak perang gerilya pertama di Sierra Maestra itu. Kita juga mengembangkam kader-kader ekonomi, yang akan mengabdikan dirinya khusus untuk menghadapi perencanaan yang sulit dan tutas-tugas negara sosialis pada masa pembentukannya.

Adalah perlu untuk bekerja dengan kaum profesional, dengan mendesak kaum muda untuk mengikuti salah satu karir teknik yang lebih penting dalam upaya memberikan i1mu pengetahuan, sebuah energi antusiasme ideologis yang menjamin kelajuan pembangunan. Adalah keharusan untuk menciptakan suatu tim administratif yang mengetahui bagaimana menqambi1 manfaat dan_ menyesuaikan pengetahuan teknis khusus lainnya, serta membimbing perusahaan-perusahaan organisasi negara lainya, untuk membawa membawanya sejalan dengan irama revolusi.

Ukuran umum bagi semua kader ini adalah kejernihan politik. Tapi ini bukan berarti dukungan membabi buta terhadap dalil-dalil revolusi, melainkan suatu dukungan yang beralasan. Hal itu memerlukan kapasitas yang besar untuk berkorban dan satu kapasitas analisis dialekttis yang memungkinkannya untuk memberikan sumbangan yang berkesinambungan pada semua tingkatan, hingga memperkaya teori dan praktek revolusi. Kawan-kawan ini harus diseleksi hanya dengan penerapan prinsip bahwa yang terbaiklah yang akan maju ke depan dan yang terbaiklah harus diberikan kesempatan terbesar untuk berkembang.

Dalam semua situasi ini, fungsi kader adalah sama pada masing-masing front yang berbeda. Kader adalah komponen penting dari motor ideologis dari Partai Persatuan Revolusi. Hal ini adalah sesuatu yang dapat kita sebut sebagai gigi penggerak dari motor itu. Menjadi penggerak lantaran ia merupakan bagian dari motor yang menjamin agar motor tersebut bekerja dengan benar. Menjadi penggerak karena ia tidak hanya sekedar penyampai slogan atau menuntut kenaikan atau penurunan, tetapi seorang pencipta yang akan membantu dalam pengembangan massa dan penyampai informasi pada para pemimpin serta menjembatani kontak diantara mereka. Kader memiliki misi penting yang melihatnya bahwa semangat besar revolusi tidak terkikis, dan semnagat besar revolusi tidak terbuang percuma dan tidak terlelap atau berkurang ritmenya. Ini merupakan posisi yang rawan. Ia menyampaikan apa yang datang dari massa dan menanamkan orientasi partai pada massa.

Oleh karena itu pengembangan kader sekarang adalah sebuah tugas yang tak dapat ditunda lagi. Pengembangan massa telah dilaksanakan oleh pemerintah dengan tekad yang besar dan dengan program-program bea-siswanya, dengan prinsip seleksi dengan program studi untuk para pekerja yang menawarkan berbegai kesempatan bagi pengembangan berbagai teknologi; dengan pengembangan sekolah-sekolah teknik yang khusus; dengan pengembangan sekolah-sekolah dan universitat-universitas yang membuka karir-karir baru. Pendeknya, hal ini dilakukan dengan pengembangan studi, kerja, dan kewaspadaan revolusioner sebagi semboyan bagi seluruh negeri kita, yang secara fundamental berbasis pada persatuan Komunis Muda, darimana semua jenis kader harus muncul di masa depan. Bahkan kader-kader pimpinan revolusi.

Hal yang berkaitan erat dengan konsep “kader” adalah konsep kapasitas untuk berkorban, untuk memperlihatkannya melalui contoh-contoh pribadi dari kebenaran dan semboyan revolusi. Sebagai pimpinan politik, para kader harus memperoleh penghargaan dari para pekerja oleh tindakan-tindakan mereka. Adalah suatu keharusan, bahwa mereka memperoleh penghargaan dan kecintaan dari kawan-kawan mereka yang mereka harus bimbing dalam jalan kepeloporan.

Karena semua inilah, tidak ada kader yang lebih baik daripada mereka yang dipi1ih oleh massa di dalam pertemuan-pertemuan yang memilih para pekerja teladan, yang akan bergabung di dalam PURS bersama anggota-anggota lima ORI yang lulus dalam semua ujian seleksi. Pada awalnya, mereka hanya merupakan sebuah partai kecil tapi dengan pengaruh yang besar diantara para pekerja. Kemudian akan tumbuh di saat kemajuan kesadaran sosialis mulai menunjukkkan hasilnya dan ketaatan total terhadap perjuangan rakyat menjadi suatu hal yang diperlukan. Dengen pimpinan-pimpinan perantara dengan kualitas ini, tugas-tugas sulit yang berada di hadapan kita akan diselesaikan dengan kesalahan yang lebih sedikit. Setelah melalui suatu periode yang membingunghan dan metode yang buruk, akhirnya kita tiba pada satu kebijaksanaan yang tepat yang tidak akan pernah ditinggalkan. Dengan impuls kelas pekerja yang selalu diperbarui yang disirami dari pancuran air yang tiada habis-habisnya, para anggota PURS masa depan, dan kepemimpinan partai kita, sepenuhnya kita laksanakan tugas pembentukan kader-kader yang akan menjamin perkembangan yang kukuh dari revolusi kita. Kita harus berhasil dalam tugas ini.

September 1962

Keterangan:

1. Pada November 1959, pemerintahan revolusioner menyetujui suatu undang -undang yang memberikan wewenang pada menteri. perburuhan untuk campur tangan dalam suatu peruahaan, memegang kendali menejemennya tanpa merubah pemilikannya, Para pemilik perusahaan yang diinterrvensi tetap berhak untuk memperoleh laba. bagaimanapun, pada prakteknya sebagian pemilik dari perusahaan-perusahaan ini hengkang dari Kuba. Prosedur ini digunakan terus oleh pemerintah revolusioner sampai akhir 1960, di saat semua cabang-cabang ekonomi pokok dinasionalisasi.

2. Pada saat artikel ini ditulis PURS berada dalam proses pembrntukannya, Pada bulan Maret 1962, pendahulu-pendahulunya ORI, The Integrated Revolution –yang dibentuk melalui penggabungan Gerakan 26 Juli, Partai Sossalis Popular dan Directorate Revolsioner–telah menjalani suatu – proses reorganisasi menuju konsolidasi partai baru di paruh akhir 1963, pusat tari reorganiiasi ini adalah pertemuan-pertemuan yang diadakan pada ribuan tempat-tempat kerja di seluruh Kuba. Masing-masing pertemuan mendiskusikan dan memiiih dari tempat kerja itu seorang pekerja teladan. Mereka yang terpilih pade gilirannya dipertimbangkan untuk keanggotaan partai.

Iklan

HANYA SATU DIANTARA DUA PILIHAN……MAU ATAU TIDAK MAU

HANYA SATU DIANTARA DUA PILIHAN……MAU ATAU TIDAK MAU

Saat ini sangat jelas apa yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia adalah kemiskinan dan kemiskinan yang hadir di Indonesia bukanlah sebuah hal yang terjadi tanpa sebab dan bukan hal yang terjadi tanpa kesengajaan. Tentunya bagi sebagian orang yang merasa dirinya mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya hal ini tidak mengusik kehidupanya karena merasa tidak berdampak pada kehidupannya. Kemiskinan yang terjadi dan kerusakan-kerusakan yang menjadi jadi segala sector adalah akibat dari gagalnya sebuah system yang mengatur jalannya roda pemerintahan…jelas kapitalisme adalah penyebab dari rusaknya keseimbangan di tanah air kita. Dan pemerintah kita jelas harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi, bukan hanya karena mereka adalah kelompok yang mengatur pemerintahan tapi yang lebih dari itu pemerintah kita adalah kaki tangan dari kapitalisme global.
Jika begitu tidak bisa tidak kita harus melakukan sebuah perjuangan untuk merubah tatanan neoliberalisme dan membangun sebuah tatanan baru yang lebih manusiawi dan adil. Apakah saat ini tidak adil….sangat tepat jika kata adil it sifatnya relative tergantung dari sudut pandang siapa yang melihat dan menilai. Tapi jika kita melihat dengan kejujuran apakah adil ketika bangsa yang hidup di atas tanah air yang kaya raya akan hasil alam harus menelan pil pahit bernama kemiskinan…???? Dan apakah adil ketika rakyat miskin tidur di bawah jembatan, diemper took, di lorong-lorong jalan kota..sementara segelintir orang dapat menghuni rumah mewah dengan segala fasilitas yang berlebih. Apakah adil ketika para gelandangan mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah sementara segelintir orang member makan anjing peliharaannya dengan makanan yang harganya lebih dari sebungkus nasi campur. Dan apakah adil ketika bangsa ini sebagai bangsa agraris harus mengalami wabah penyakit busubg lapar..????? Tapi keadilan yang sejati sifatnya tidak lagi relative tapi baku…tetap dan tak berubah..keadilan adalah sama rata sama rasa..seimbang tidak berat sebelah…manusiawi dan tidak menindas siapapun. Makan bagi yang mau bekerja…dan tidak boleh makan bagi yang tidak bekerja. Dan arti bekerja disini adalah melakukan kerja nyata bukan dalam artian hanya mengatur orang-orang untuk bekerja..jadi idealnya para pengusaha itu tidak boleh makan…karena mereka hanya mengatur dan mengatur tanpa turun tangan dalam kegiatan kerja. Para buruhlah yang seharusnya menikamti semua hasil kerja mereka. Dan bagaimana dengan pengangguran..atau yang menganggur apak mereka tidak boleh makan…????? Jawabnya tidak singkat….apa sebab mereka menganggur..??? jika mereka menganggur karena tidak adanya lapangan pekerjaan bagi mereka jelas pemerintah yang harus menyediakan lapangan pekerjaan atau member mereka modal untuk membangun sebuah usaha . Tapi jika mereka menganggur karena malas untuk bekerja , mereka tidak berhak untuk makan….!!!!
Kita tidak bisa terus diam dan menunggu sampai paham dan pemikiran-pemikiran kuno tentang mendahulukan keluarga itu hilang…kita yangharus megikis dan menghancurkan paham – paham kuno itu…!!!! Terlalu egosentris sifatnya jika perjuangan yang kita lakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri..siapapun bisa melakukan itu…..benar jika tanggung jawab dalam keluarga harus dilakukan dan menjadi kewajiban…..mengapa tidak dijalankan secara berdampingan antara perjuangan untuk keluarga dan untuk bangsa ini. Sampai kapan kita akan menunggu….sampai tanah air ini sama sekali tidak bersisa…??? Pemikiran kuno tidak bisa kita jadikan alasan untuk kita menghindari perjuangan…!!! Tidak akan ada nama nabi-nabi dalam kitab suci jika mereka hanya memperjuangkan nasib dirinya dan keluarganya sendiri…dan mereka tidak akan pernah mampu untuk melakukan perjuangannya jika mereka tidak mau melakukan itu. Jadi intinya disini bukan masalah paham kuno atau apapun alasanya. Hanya ada satu diantara dua pilihan mau atau tidak mau….hanya itu….dan kita tidak perlu berargumen panjang lebar untuk mencari pembenaran terhadap sikap kita……salam pembebasan…salam rakyat pekerja. SOSIALISME HARGA MATI…..!!!! ( Tanah Airku Indonesia )

KEMISKINAN ( MISKIN ATAU DIMISKINKAN…??? )

Benarkah bangsa kita ini miskin…????
Jawabnya adalah tidak…bangsa kita adalah bangsa yang sangat kaya raya sebab bangsa kita hidup dia atas negeri yang sangat melimpah ruah akan hasil bumi dan kekayaan alam lainnya. Barang galian berupa emas, perak, platina, batu bara, besi, tembaga, timah, bauksit sampai belerang dan kapur terkandung dalam perut bumi Indonesia. Lain dari itu negeri kita juga sangat melimpah akan bahan bahan tambang seperti minyak dan gas bumi. Selain barang tambang dan barang galian tersebut tanah air kita juga merupakan tanah yang sangat subur…maka dari itu tidak heran jika negeri ini kaya akan hasil hutan, dan hasil pertanian……dans sebagai Negara yang terkenal dengan julukan Negara Bahari.julukan itu bukan hanya nama kosong belaka…sebagian besar tanah air kita terdiri dari lautan yang sangat luas dan memiliki sumber daya alam laut yang tak kalah meruahnya dengan sumber daya alam daratnya…berbagai jenis ikan, kerang dari jenis kerang biasa sampai jenis tiram mutiara, udang dan bermacam macam lainya.
Jika kita lihat dari penjabaran di atas….apakah pantas jika diatas negeri yang kaya-subur dan makmur ini masih terjadi sebuah fenomena bernama kemiskinan..???? Harus kita akui bersama bahwa kemiskinan yang terjadi dan melanda negeri ini, bukanlah hal yang seharusnya terjadi. Jika demikian apa yang menyebabkan bangsa ini harus meresakan hal yang seharusnya tidak terjadi.???
Untuk itu mari kita telaah bersama….
Jika ada pohon tentu ada akarnya….kita harus menemukan akar dari pohon kemiskinan yang tumbuh di bumi Indonesia kita tercinta. Banyak orang bilang kebodohan adalah sumber dari kemiskinan…tapi coba kita bersama merenungkan kalimat tersebut dan coba kita tambahkan lagi dengan kalimat lain dibelakangnya…..dan kemiskinan adalah penyebab kebodohan..jadi antara kebodohan dan kemiskinan itu tetap berjalan seiring…kebodohan adalah sumber kemiskinan dan kemiskinan adalah penyebab kebodohan yang mengakibatkan kemiskinan yang melahirkan kebodohan…begitu seterusnya. Dari sini kita bias menarik kesimpulan bahwa kebodohan tidak bisa untuk disalahkan dalam mencari akar dari kemiskinan.
Lalu….???? Apa yang menjadi akar dari kemiskinan itu…??? Jika kita jeli dan cermat melihat UUD 45 dalam pasal 33 ayat 3 berbunyi demikian Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Yang jadi pertanyaan apakah sudah Negara menguasai kekayaan alam itu dan menggunkananya untuk kemakmuran rakyat..?????
Jika ada yang menjawab sudah…lalu mengapa rakyat masih mengalami kemiskinan yang akut..??? dengan tegas kita jawab “NEGARA BELUM MENGELOLA DAN MENGUASAI SUMBER DAYA ALAM UNTUK KEMAKMURAN RAKYATNYA…!!!!
Kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi Indonesia sampai pada hari ini kebanyakan dikelola oleh perusaha-perusahaan swasta baik swasta dalam negeri ataupun swasta asing..seperti halnya “Gunung Emas “ kita di Papua, selama ini hasilnya sebagian sangat besar diangkut oleh pihak perusahaan bernama Freeport ke Negara asal mereka……Amerika Serikat..masih banyak lagi hal lain yang terjadi yang mungkin kawan-kawan sudah dan lebih mengetahuinya.
Jadi dari sini kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa sesungguhnya pemerintah Negara inilah yang bertanggung jawab atas kemiskinan atau lebih tepatnya pemiskinan yang terjadi di tanah air kita. Dan bisa kita pastikan bahwa pemerintah kita sadar betul apa yang sedang mereka lakukan dan apa dampaknya, tapi mereka tetap saja melanjutkan fungsi mereka sebagai penjaga dari sebuah system yang membela dan berpihak pada pemilik modal…sebuah system yang sangat menyengsarakan rakyat kecil…sistem ekonomi politik kapitalisme
Keberpihakan dan peran serta pemerintah kepada system ini jelas merupakan tindakan ikonstitusional yang mengangkangi UUD 45 dan Pancasila sebagai landasan bernegara. Namun siapakah yang mampu mengadili pemerintah..???? sedangkan lembaga peradilan adalah salah satu elemen dalam struktur pemerintahan….sebuah masalah yang sangat sulit untuk diselesaikan. Tapi harapan itu masih tetap ada selagi kita masih mau berusaha…ketika lembaga peradilan sudah tidak berfungsi sebagai lembaga penegak hukum yang tak pandang bulu maka kita sebagai rakyat yang setidaknya sudah mengerti duduk permasalahannyalah yang harus membawa mereka duduk dalam kursi pengadilan…pengadilan rakyat tetunya.
Jika kita telah menyadari kekeliruan dan keblinger nya pemerintah kita…akankah kita tetap diam dan berpangku tangan menyaksikan tanah air kita diobrak-abrik oleh para pemilik modal saing maupun dalam negeri…sedangkan rakyat hanya mendapatkan hasil berupa pencemaran alam dan kerusakan lingkungan…..!!!! jika kita hanya diam itu adalah salah satu bentuk dari pengkhianatan terhadap Pancasila dan UUD 45 juga Ibu Pertiwi….
Maka dari itu kita yang telah sadar dan mengerti sudah sepantas dan selayaknya bahkan merupakan suatu keharusan untuk menghentikan penghancuran dan perampokan terhadap tanah air kita…..!!!!! seorang diri tidaklah mungkin untuk menghadapi seekor iblis tirani bernama kapitalisme dan setan-setan pendukungnya…..sebuah front persatuan harus dibangun untuk menumbangkan kekuasaan tirani ini.!!! Tapi kita kembalikan ini semua kepada masing-masing individu…bersama rangkaian pertanyaan…dimana kamu lahir, tumbuh dan hidup sampai sekarang ini…..dan satu lagi, milik siapa Tanah Air ini..?????? PERJUANGKAN APA YANG SEHARUSNYA MENJADI HAK RAKYAT DAN ITU SANGAT LAYAK UNTUK DIPERJUANGKAN…..HANCURKAN APAPUN YANG MENYENGSARAKAN RAKYAT DAN ITU SANGAT LAYAK UNTUK DIHANCURKAN…!!!!! ( Tanah Airku Indonesia )

Perlawanan Rakyat Menentang Neoliberalisme.

Perlawanan Rakyat Menentang Neoliberalisme.

LATAR BELAKANG:

Jejak-jejak sejarah memberikan kesimpulan kepada kita bahwa liberalisme dan cara pandang (outlook) liberal merupakan reaksi kaum borjuis terhadap “excesses” “competitive capitalism”, pendek kata “excesses” world capitalist Market yang hulunya didasarkan pada penghisapan surplus value yang dihasilkan oleh kaum pekerja –penghisapan surplus value dan kompetisi (baca: kontradiksi antar kapitalis) inilah sebenarnya akar atau sebab musabab dari “excesses” atau krisis yang ditimbulkan oleh sistim kapitalisme: OVER PRODUCTION; EXCESS SUPPLY; KELIMPAHAN PRODUKSI TANPA DAYA BELI MAYARAKAT.

Penghisapan surplus value bisa terjadi jelas karena system ekonomi memperbolehkan produsen barang-barang dan jasa-jasa tak memiliki hak apapun terhadap alat-alat produksinya, mereka hanya lah berposisi sebagai penjual tenaga kerja (untuk memproduksi barang-barang dan jasa-jasa) kepada pemilik alat-alat produksi. Penghisapan surplus value melalui pembelian komoditi labor-power (secara murah) merupakan basis bagi akumulasi kapital (dalam bentuk monetary values) guna memenangkan persaingan di antara kapitalis.

Proses akumulasi kapital dan kompetisi di antara kapitalis mengarah pada konsentrasi dan sentralisasi kapital ke tangan segelintir kapitalis besar. Dan hal ini juga menyebabkan skala operasi kapital dan wage-labour menjadi meningkat, terjadi sosialisasi kapital (dalam bentuk join-stock company) dan labour (dalam bentuk interdependent labor power antar cabang produksi). Formasi joint-stock companies, yang akan meningkatkan skala produksi ini, menyebabkan perusahan-perusahaan yang mereka miliki menjadi social enterprises, perusahaan-perusahaan yang menguasai hajat hidup orang banyak. Fenomena social enterprises sebenarnya merupakan tanda, bukti, adanya potensi bahwa sosialisasi tenaga produktif dapat diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun tidak demikian halnya dalam sistim kapitalisme, karena ia beroperasi dalam kerangka (framework) perampasan pribadi surplus value atau surplus labour. Fenomena joint-stock companies terbentuk paruh kedua (second half) abad ke-19.

Ketika kontradiksi semakin menajam maka joint-stock company bukan lah lagi merupakan persekutuan abadi yang agung dan sakral karena pada dasarnya impian seorang kapitalis adalah monopoli –yang pada gilirannya membutuhkan campur tangan negara dalam aktivitas ekonomi. Selain itu juga tumbuh gejala perdagangan finansial oleh parasit-parasit aristokrat finansial, yang menghisap keuntungan spekulatif –belum pasti akan meningkatkan nilai produksi barang-barang dan jasa-jasa (it is no longer supported by the levels of value production by the companies whose shares are being traded); yang pasti hanya akan menyebabkan kenaikan harga barang-barang dan jasa-jasa– di sorga stock exchange. Stock exchange merupakan institusi untuk menambah kekuatan finance capital, suatu kekuatan yang bisa dibuat mobil dan fleksibel melewati batas-batas nasional, agar mendunia, menjauhkankannya dari proses produksi langsung, memudahkannya berkonsentrasi ke tangan segelintir kapitalis besar.

Kehidupan ekonomi dan politik yang didominasi oleh oligarki finansial dari negeri-negeri maju menandai babak baru dalam sejarah dunia, babak sejarah dominasi kapitalis yang, bila dibandingkan dengan tahun-tahun 1871 hingga 1914 (Perang Dunia I), lebih menekan, penuh dengan perubahan-perubahan mendadak, penuh dengan konflik, suatu babak yang bagi rakyat terhisap dan tertidas akan diakhiri kengerian. Imperialisme –dengan alat-alat militer koersifnya– kini menjadi JALAN KELUAR bagi kapitalisme, bagi oligarki finansial untuk mempertahankan dominasi imperial mereka di negeri-negeri terkebelakang, untuk memperkaya dirinya tidak saja dengan mengorbankan kelas pekerja di negerinya sendiri tapi juga di negeri-negeri yang dikuasainya.

Sekarang imperialisme mendapatkan topeng barunya: globalisasi — konsentrasi nilai yang diproduksi masyarakat dunia ke tangan segelintir multinasional dalam rupa penyatuan modal bank, finansial dan produksi. Jumlah perusahaan multinasional telah meningkat dari 7.000 pada tahun 1970 menjadi 37.000 pada tahun 1992. Perusahaan nasional dilekatkan dengan erat –sampai ke tingkat ketergantungan yang tinggi– dengan perusahaan-perusahaan asing besar. Kekuatan ekonomi perusahaan multinasional jauh lebih besar ketimbang bahkan banyak negara-negara nasional. Contohnya, penjualan mereka telah meningkat menjadi 5,5 milliar dollar, 90% yang dibuat negara imperialis utara dan hanya 10% dibuat di negara produsen selatan. Sejalan dengan kekuatan ekonominya, langsung atau tidak langsung, perusahaan multinasional memiliki kekuatan politik tak terbatas melampaui negara nasional. Trilyunan dollar keluar masuk sebagai gerak internasional modal finansial. Total aset stock of financial assets — dalam bentuk company stocks and derivatives, government bonds, etc — meningkat dari US$5 trillion di 1980 menjadi US$35 trillion di 1992 dan diharapkan melebihi US$80 trillion pada tahun-tahun belakangan ini –tiga kali lebih besar dari nilai total barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksi oleh aktivitas ekonomi negeri-negeri kapitalis maju. Dan hasil globalisasi: pengukuhan oligarki finansial Amerika –the Rockefellers, Mellons, Morgans, DuPonts, Whitneys, Warburgs, Vanderbilts, etc.– yang bukan saja menguasai bank-bank dan perusahaan-perusahaan asuransi, namun juga perusaaan-perusahaan industri tidak saja di Amerika tapi di dunia. Menurut Laporan Investasi Dunia 1993, yang diterbitkan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB), ada 37.000 korporasi transnasional, yang memiliki 170.000 anak perusahaan di luar negeri. 90% dari korporasi-korporasi transnasional tersebut berkantor pusat di negara-negara maju. Dan, jauh dari apa yang disebut sebagai penyebaran aset dan sekalipun penjualan mereka telah menyeberangi bola bumi, justru korporasi-korporasi transnasional telah memusatkan produksi dan penjualan komoditi mereka di negara-negara “induk”. Ini mencerminkan adanya distribusi yang sangat tidak setara (uneven) dalam hal investasi langsung dan perdagangan skala global.

Dan buah dari pohon monopoli, buah dari pohon spekulasi di stock exchange, serta buah dari pohon imperialisme tak lain tak bukan: KELIMPAHAN BARANG DAN JASA TANPA DAYA BELI MASYARAKAT; OVER PRODUCTION; EXCESS SUPPLY. Dan NEOLIBERALISME MERUPAKAN JALAN KELUAR SISTIM EKONOMI-POLITIK KAPITALISME dalam mengatasi krisis dan ekses-eksesnya, yang hasilnya juga adalah krisis dan ekses-ekses.

Sebaiknya kita telusuri sejarah bagaimana sistim ekonomi-politik kapitalisme mencoba mengatasi krisis dan ekses-ekses yang ditimbulkannya, sebelum sampai pada kesimpulan kegagalan jalan keluar neoliberalisme.

Tidak seperti situasi sekarang, pada akhir 1920-an structural overcapacity dan pasar finansial yang diawasi ketat menyebabkan ledakan spekulasi stock-market (bursa saham). Tidak seperti sekarang juga, pemerintah mengatasinya dengan jalan meningkatkan tingkat bunga guna menahan laju permintaan kredit konsumsi –yang akan meningkatkan harga-harga inflatory barang-barang dan jasa-jasa. Namun di tahun 1929 stock-market mengalami kehancuran, harganya mengalami penurunan gila-gilaan, mengakibatkan banyak investor dan kreditor bangkrut, dan investasi produksi baru menurun secara dramatik. US Federal Reserve (Bank Sentral Amerika) tidak bisa lagi mempertahankan sistim perdagangan internasional yang melibatkan bantuan antar-pemerintah secara besar-besaran. Negeri-negeri kapitalis yang saling bersaingan meningkatkan penjagaan proteksionisnya. Pada tahun 1933, di Amerika penganguran meningkat menjadi 13 juta orang. Krisis sosial politik potensial siap meledak, yang bukan saja mengenai Amerika namun juga berpengaruh secara global.

Untuk menghindari ledakan krisis sosial politik tersebut Presiden Franklin D. Roosevelt mendorong administrasinya campur tangan lebih besar dalam kehidupan ekonomi dengan memusatkan perhatiannya dalam menciptakan lapangan kerja secara massive.. Pada musim dingin 1933-34 saja sudah 4 juta orang bisa diberikan lapangan pekerjaan dalam program-program pekerjaan umum, di atas basis anggaran belanja defisit dan Social Security Act of 1935. Apa yang dilakukan oleh Roosevelt’s New Deal merupakan suatu pengakuan bahwa dalam babak perusahaan-perusahaan monopolistik dan dominasi kapital finans, ekonomi kapitalis membutuhkan intervensi negara, tanpa itu, hanya mengandalkan mekanisme pasar semata, ia akan kolaps. Hanya negara yang sanggup melanggengkan kapitalisme.

Walaupun memang hanya dalam dua tahun, 1936-1937, telah terjadi perbaikan atau jalan keluar terhadap ekonomi Amerika, bisa menyelesaikan depresi ekonomi, sepeti misalnya saja pengangguran bisa ditekan sampai tingkat 4,5 juta orang (dari 13 juta orang), namun pada bulan Maret 1938 naik kembali menjadi 11 juta orang dan 10 juta orang menjelang Perang Dunia II. upturn of 1936-37. Hanya atas dorongan pemerintah lah –melalui anggaran belanja defisit yang diarahkan pada pembelanjaan untuk mempersenjatai Perang Dunia II– pengangguran bisa diatasi. Namun cara Keynesian tersebut hanya akan mendorong suatu inflasi harga barang-barang dan jasa-jasa saja bila para investor yang menguasai bisnis, oligarki finasial, tidak bisa memperluas pasar bagi peningkatan produksinya. Selama Depresi Besar tersebut tak ada perluasan pasar yang mereka harapkan itu, dan itulah mengapa keampuhan kebijakan Keynesian hanya terbatas. Hanya perang atau persiapan perang yang dapat memperluas pasar seperti yang mereka harapkan itu: pembelian barang-barang kebutuhan perang oleh pemerintah. Persis, seperti apa yang dikatakan Keynes dalam tulisannya The General Theory of Employment, Interest and Money: “Wars have been the only form of large-scale loan expenditures which statesmen have thought justifiable.” Jadi, kesimpulan bahwa adopsi kebijakan Keynesian lah yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sejak 1940-an hingga 1970-an adalah MITOS. Karena yang sebenarnya adalah restorasi tingkat keuntungan (dalam investasi produksi) lah yang menyelamatkannya, yaitu melalui: rendahnya gaji riil (karena tingkat pengangguran tahun 1930-an); hancurnya kompetisi bisnis dan konsentrasi massive kapital; anggaran belanja defisit negara yang dibelanjakan untuk membeli barang-barang kebutuhan perang sejak akhir 1940-an.

Terdorong oleh perang dan peningkatan persenjataan, maka seluruh cabang produksi mengalami revolusi teknologi –terutama penemuan-penemuan peralatan-peralatan teknologi yang mempercepat otomatisasi proses produksi. Revolusi teknologi inilah yang menyebabkan berlipatgandanya profit karena bisa menghemat ongkos produksi barang-barang. Dan akhirnya penghematan inilah yang memungkinkan penjualan barang menjadi lebih murah dengan konsumen yang lebih besar. Lagi-lagi, anggaran belanja defisit negara pada massa Perang Dunia II dan Perang Dingin, yang disalurkan untuk research and development serta technical improvements, lah yang mendorong meningkatnya technological innovations pada second half of the 20th century.. Di atas basis penemuan-penemuan teknologi ini lah impian kapitalis diletakkan: bisa menggunakan segala cara untuk memaksakan perluasan pasar, menekan biaya buruh dan pengerukan sumberdaya global –semuanya itu sering dihaluskatakan (euphemism) menjadi “globalisasi.” Spekulator besar seperti George Soros pun mengkawatirkan bahwa “globalisasi” dan “pasar bebas” neo-liberal akan mengabaikan kepentingan publik –dalam hal ini kelas pekerja– sehingga mereka tak akan lagi patuh pada sistim parlementer yang menunjangnya, sehingga kelas pekerja mencari alternatif lain: mengambil alih pemerintahan ke tangannya. Dan depresi global seperti tahun 1929-an — of financial crises and economic collapses that have hit countries like Japan in 1989, Mexico in 1994, South Korea, Thailand and Indonesia in 1997 and Russia in 1998– oleh negeri-negeri kapitalis maju, terutama Amerika dan Inggris, tidak akan lagi diatasi oleh cara-cara Keynesian tapi oleh NEOLIBERALISME –dan tanggungjawab ini diserahkan kepada institusi-institusi kaki tangannya: IMF, WB, WTO, GATT, Paris Club, NAFTA, APEC dan sebagainya. (Adalah pemerintah negara-negara imperialis yang mengontrol IMF, Bank Dunia dan WTO, sebagaimana juga mereka mereka mengontrol Dewan Keamanan PBB. Di dalam IMF, misalnya, voting didasarkan atas saham sumber keuangan yang dikontribusikan. Pada tahun 1990, ke 23 negara-negara imperialis memiliki 62,7% suara sebagai tandingan 35,2% suara yang dimiliki 123 anggota lainnya. Lima Dewan Eksekutif permanen IMF dicalonkan oleh lima besar pemilik saham –AS, Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang. Fungsi pokok IMF, Bank Dunia dan WTO adalah untuk menyetir negara-negara yang ada dalam hal kebijakan ekonomi, yang tentu saja harus disetujui oleh mayoritas negara-negara imperialis. Kebijakan tersebut diputuskan dalam pertemuan tahunan pemerintah 7 negara imperialis utama –G7. Dalam pertemuan tahun 1976 mereka, misalnya, pemimpin-pemimpin negara G7 menyetujui rencana reorganisasi ekonomi negara-negara Dunia Ketiga melalui: pembukaan pasar dunia –dalam hal ini, untuk mengimpor dari negara-negara imperialis—atau memprioritaskan impor ketimbang membeli dari pasar dalam negeri, privatisasi BUMN-BUMN, memfungsikan dan membuka lebar-lebar pintu bagi investasi asing, serta pemotongan pos-pos anggaran “tidak produktif” seperti pendidikan dan kesehatan. Policy tersebut, oleh IMF dan Bank Dunia, kini sudah merupakan policy yang dipaksakan pada para debitur negara Dunia Ketiga. Penaklukan pasar dalam negeri negara-negara semi-kolonial adalah juga merupakan tujuan mendasar di balik tekanan kekuatan negara-negara imperialis terhadap asosiasi-asosiasi “pasar bebas” seperti NAFTA dan APEC. Penghapusan tarif impor oleh seluruh anggota asosiasi-asosiasi ini menghapus satu-satunya bentuk proteksi yang tersisa oleh negara-negara semi-kolonial terhadap penetrasi pasar dalam negeri mereka oleh kekuatan-kekuatan imperialis. Tetapi negara-negara imperialis dapat membatasi penetrasi terhadap pasar dalam negeri mereka terhadap ekspor dari negara-negara semi-kolonial melalui menerapkan serangkaian hambatan-hambatan non-tarif yang kokoh.

Serangan neo-liberal terhadap kebijaksanaan Keynesian bukan lah bertujuan untuk membatasi penggunaan public debt guna mendorong ekonomi kapitalis, akan tetapi bertujuan mengarahkan/mengontrol kembali pembelanjaan-pembelanjaan pemerintah yang dipakai untuk program-program kesejahteraan agar bisa MENSUBSIDI (TERMASUK KONSESI-KONSESI PAJAK) PENGUSAHA-PENGUSAHA BESAR DAN PROGRAM-PROGRAM PERSENJATAAN.

Serangan neo-liberal terhadap kesejahteraan dan daya beli masyarakat juga diperparah oleh spekulasi di bursa saham (stock market) dan permainan nilai tukar currency. Tidak seperti dahulu –para investor membeli saham guna berbagi keuntungan di atas basis aktivitas produksi dan penjualan komoditi– sekarang tujuan utama mereka membeli saham di bursa saham adalah untuk mencari uang melalui spekulasi (baca: perjudian): jual-beli saham perusahaan agar bisa memperoleh keuntungan kilat dengan memprediksi (baca: mengira-ngira) bagaimana (nilai) jual-beli saham esok hari, bahkan dalam sekejap. Para penanam modal juga melakukan spekulasi terhadap nilai tukar currency berbagai negeri. Skala spekulasi currency (valuta asing) tersebut sekarang sudah sedemikian besarnya sehingga menyebabkan fluktuasi nilai tukar currency berbagai negeri, bahkan evolusinya (baca: bebannya) sampai-sampai melebihi kemampuan neraca keseimbangan perdagangan (balance of payments) suatu negeri (selalu kasusnya negeri berkembang). Semakin berfluktuasinya nilai tukar currency, semakin bergairah pula para penanam modal berspekulasi. Hasilnya: sampai-sampai bank sentral negara-negara imperialis tak memiliki cukup uang lagi untuk melawan para spekulatif –tentu saja bank sentral negara-negara berkembang lah yang tak sanggup duluan melawan para spekulator.

Agenda ekonomi neo-liberal, dengan mengkombinasikannya dengan pemangkasan daya beli riil kelas pekerja, penghamburan besar-besaran walfare state bagi kaum kaya, dan mendorong terciptanya perluasan “kebebasan” (tanpa bisa dikontrol) pasar finansial dunia, telah gagal menghasilkan kondisi-kondisi untuk mengakhiri depresi (berkepanjangan). Malah justru mempercepat akselerasi investasi dalam bentuk hutang, dalam bentuk kertas-kertas (tak berharga) di Wall Street dan pasar-pasar finasial di seluruh dunia, dan akhirnya menyebabkan kegoncangan dalam sistim kapitalis dunia.

Apa yang terjadi kemudian dan beban apa yang kini harus ditanggung akibat kebijaksanaan dan agenda neo-liberal:

KRISIS.. Rata-rata pendapatan per kapita negara-negara kaya adalah 11 kali pendapatan per kapita negera-negara miskin pada tahun 1870, meningkat menjadi 38 kali pada tahun 1965, dan 58 kali pada tahun 1985; Di antara sekitar jumlah tenaga kerja global sebesar 2,5 Milyar orang, 59% sekarang berada di tempat yang oleh Bank Dunia golongkan sebagai “negara-negara dengan upah murah”, 27% di “negera-negera dengan upah menengah” dan hanya 15% yang tinggal di “negara-negara dengan upah mahal”. Itu adalah proyeksi 30 tahun lalu, hanya 10% dari tenaga kerja global yang akan tinggal di “negara-negara dengan upah mahal”; Ketidakseimbangan antara laki-laki dan perempuan, antara kelompok-kelompok etnik, dan antara wilayah geografis secara khusus bersifat kekerabatan…Wilayah miskin, semacam negara bagian Chiapas di Mexico, selalu tetap miskin secara relatif sekalipun ekonomi seluruh dunia meningkat”!; fakta mengatakan bahwa daya beli dari upah buruh-buruh non-supervisory, bahkan, di AS telah jatuh sejak tahun 1973 sampai pada level tahun 1950-an, dan rata-rata upah riil di Mexico jatuh hampir 50% selama tahun 1980-an serta standar hidup mayoritas rakyat Mexico sekarang lebih rendah dibanding sebelum Perang Dunia II dulu; Bahkan, pengangguran meningkat tajam, mencapai tingkat rata-rata resmi 8% di seluruh negara-negara imperialis. Perbaikan kembali dimulai dengan dinamisme besar-besaran pada tahun 1994, tetapi dalam 18 bulan ia menguap. Pada periode tersebut semenjak akhir dari resesi, pengangguran di seluruh negara-negara imperialis hanya menurun menjadi 7,8% menurut laporan resmi.

PERLAWANAN. Selama tahun 1980-an dan awal 1990-an, penguasa imperialis telah membuat kesepakatan yang terang-terangan untuk melemahkan perlawanan kelas pekerja. Dan kejadian-kejadian sejak tahun 1995 telah mengindikasikan bahwa kelas kapitalis telah benar-benar sukses dalam hal menghancurkan kemampuan kelas pekerja untuk memperoleh lagi kepercayaan diri. Namun, dimulai dengan pemogokan buruh transportasi umum dan pos di Perancis pada Desember 1995, telah muncul kembali daya tempur kelas pekerja di serangkaian negara-negara industrial dan semi-industrial; Gelombang pemogokan Desember di Perancis tahun 1995 dipimpin oleh buruh kereta api, sebagai respon terhadap usaha pemerintah memotong tunjangan sosial buruh kereta api. Pukulan pemerintah secara meluas dapat disadari secara mendasar oleh mereka, sehingga bisa mengerahkan dan mengarahkan semua buruh Perancis dan bahkan kelas menengah strata bawah. Pemogokan tersebut didukung oleh rally dan demonstrasi secara mingguan, yang membuat kemacetan aktivitas ekonomi secara nyata di seluruh kota-kota penting di Perancis. Buruh yang berpartisipasi meningkat sampai dua juta orang pada setiap akhir minggu di kota-kota kecil dan besar seluruh negara selama 24 hari golombang pemogokan; Lalu pada tanggal 16 Oktober, dilaporkan 1,6 juta buruh sektor publik Perancis melakukan pemogokan sehari, bersamaan dengan buruh transportasi dan layanan publik lain, dalam protes menentang proposal, yang sedang didebatkan parlemen Perancis saat itu, untuk menghapuskan tunjangan bagi buruh sektor publik dan pemotongan sebanyak 5.500 lapangan kerja di sektor publik menjelang akhir tahun tersebut dalam rangka mencapai target anggaran untuk menciptakan sebuah mata uang tunggal Eropa pada bulan Januari 1999; Empat hari kemudian, 300.000 orang rally di seluruh Brusel dalam rangka protes terhadap perlindungan secara diam-diam oleh politisi Belgia terhadap lingkaran pornografi anak-anak yang menculik dan membunuh anak-anak; Seminggu kemudian Federasi Umum Pekerja Belgia yang dibawah pimpinan kaum sosial-demokrat mengorganisir pemogokan selama 24 jam untuk menuntut pengenalan minggu kerja yang lebih pendek tanpa potongan upah untuk memerangi peningkatan pengangguran; Pada tanggal 24 Oktober, 400.000 buruh baja, buruh galangan kapal dan buruh-buruh industri manufaktur lain di Jerman mogok melawan pemotongan gaji saat sakit. Aksi ini yang terbesar di antara protes-protes serupa di Jerman; Satu hari kemudian, para buruh melakukan pukulan telak terbesar di Kanada, Toronto, dalam pemogokan umum seluruh kota untuk menolak pemotongan anggaran negara atas tunjangan kesejahteraan, pendidikan dan kesehatan oleh pemerintah daerah Ontario. Pemogokan tersebut diikuti dengan dengan rally oleh 300.000 demonstran pada tanggal 26 Oktober. Pemogokan umum Toronto adalah yang terbaru di antara pemogokan lima kota di propinsi Ontario; Pada tanggal 28 November, tiga juta buruh berpartisipasi dalam pemogokan umum di Yunani untuk memprotes pengumuman pemerintah partai Sosial Demokrat PASOK yang baru saja terpilih, yang menyatakan akan menyapu ukuran-ukuran kemandegan ekonomi. Pada hari yang sama ribuan petani Yunani memasang blokade-blokade jalan yang memotong negara tersebut menjadi dua bagian. Para petani tersebut menuntut peningkatan harga produk mereka untuk menjamin pendapatan mereka, bahan bakar yang lebih murah, penundaan pembayaran hutang sebesar US$1,3 juta terhadap bank-bank dan menuntut pajak yang lebih murah untuk mesin-mesin pertanian; Pada tanggal 13 Desember, tujuh juta buruh mengadakan pemogokan selama 24 jam di seluruh kota-kota utama di Italia dalam rangka memprotes ukuran-ukuran kemandegan oleh pemerintahan partai koalisi Pohon Jaitun pimpinan Romano Prodi yang baru saja terpilih, komponen utamanya adalah Partai Demokrat Kiri yang sosdem, sebelumnya disebut Partai Komunis; Demikian juga terjadi aksi-aksi oleh para buruh di Argentina, Rusia; Dan, sekarang, Korea Selatan adalah gejala permulaan sebuah respon kaum buruh terhadap peningkatan serangan modal terhadap standar hidup kelas pekerja, khususnya eskalasi serangan kaum kapitalis terhadap tunjangan-tunjangan keamanan sosial; Namun, barangkali yang paling penting di antara aksi-aksi buruh tersebut adalah pemogokan oleh 50.000 sopir truk Perancis yang dimulai pada tanggal 17 November dan berakhir pada 12 hari kemudian. Pemogokan ini secara paling signifikan karena ia bukan merupakan sebuah pertempuran defensif yang sukses, seperti halnya pemogokan Desember 1995, tetapi merupakan sebuah pertempuran offensif yang sukses. Para sopir truk tersebut memenangkan tuntutan utama mereka –pemotongan jam kerja tanpa pemotongan gaji dan pemendekan umur pensiun dari 60 sampai 55 setelah 25 tahun bekerja. Keputusan akhir juga menyertakan janji pemerintah akan adanya tunjangan gaji rutin selama 5 hari sebagai ekstra. Kunci kemenangan para sopir truk tersebut adalah solidaritas massa yang mereka terima dari buruh Perancis yang lain. Seperti yang dilaporkan oleh majalah Time edisi London: “Menurun polling pendapat, 87% dari para sopir yang diwawancarai sejutu dengan tuntutan para sopir mengenai peningkatan upah, pemotongan jam kerja dan masa pensiun 55 tahun sebagai hal yang dianggap fair”. Harian London juga melaporkan bahwa selain jalan-jalan yang diblokade, pom bensin kosong dan kerumunan massa yang tidak seperti biasanya, para penonton yang simpati secara aktif memberikan dukungan kepada para pemogok. Ini, termasuk pula para pemilik restoran dan para pemilik usaha kecil yang mensuplai para pomogok yang memblokade jalan dengan makanan, kopi dan uang. New York Times edisi 30 November merangkum alasan mengenai kemenangan atas dukungan masyarakat: Walaupun pemerintah bukan pihak yang langsung terlibat dalam perselisihan tersebut, pemerintah telah dilemahkan olehnya. Simpati masyarakat yang meluas terhadap para sopir truk mencerminkan peningkatan melemahnya negara dalam hal ekonomi dan semakin mendalamnya ketidakpuasan terhadap pemerintahan konservatif Presiden Jacques Chirak yang berumur 17 bulan itu; Di Amerika Latin, gelombang privatisasi yang diminta World Bank dan IMF telah menghasilkan pengangguran, mengantarkan ribuan buruh turun ke jalan menjadi balatentara pengangguran; pada saat apa yang disebut “model neo-liberal” menunjukkan dirinya sebenarnya, ada sebuah rangkaian protes sosial dengan kekerasan, sebagaimana yang terjadi di Mexico, Venezuela, Argentina dll, yang membuktikan bahwa neoliberalisme tak mencapai hasil yang mereka inginkan, dan bahwa neoliberalisme tak bisa lagi menjual bualan impian bohong kepada jutaan orang miskin yang didorong ke dalam kondisi kesedihan yang ekstrim, seperti di Peru, di Andes dan di seluruh benua.

Pelajaran utama dari pemogokan para sopir truk Perancis tersebut adalah: bahwa aksi massa yang militan mendapat solidaritas perjuangan kelas, kelas pekerja tidak sekedar memblokade serangan kapitalis atas standar kehidupan mereka tapi memaksa kapitalis mundur. Pada permulaan abad ke-21 ini, hal itu merupakan konsep globalisasi yang benar-benar mengagumkan Dan dalam kondisi seperti inilah ketika orang-orang Mecixo, Peru dan Amerika Latin dengan organisasi revolusionernya terdorong untuk merencanakan alternatif objektif dan ilmiah untuk melawan sistem pembunuh dan pembinasa ini. DAN KITA …?

Tentang Demokratik Sentralisme dan Sistem Pemerintahan (Rezim) sebuah Partai

Tentang Demokratik Sentralisme dan Sistem Pemerintahan (Rezim) sebuah
Partai
(On Democratic Centralism and The Regime)

Oleh Leon Trotsky

Dari sebuah buletin internal Amerika Serikat pada tanggal 8 Desember
1937, sebelum terbentuknya SWP (Socialist Workers Party – Partai Buruh
Sosialis)

Kepada Editor Socialist Appeal (USA):

Bulan-bulan belakangan ini, saya menerima surat-surat dari beberapa
kamerad muda yang saya tidak kenal mengenai sistem pemerintahan
internal dari sebuah partai revolusioner. Beberapa surat tersebut
mengeluh akan kurangnya demokrasi di organisasi saudara, akan sikap
mendominasi dari para pemimpin dan pengaduan-pengaduan lainnya yang
serupa.

Individu-individu kamerad tersebut meminta saya untuk memberikan
sebuah formula yang jelas dan tepat akan demokratik sentralisme, yang
dapat mencegah penafsiran yang keliru. Tidaklah mudah untuk menjawab
surat-surat ini. Tidak satupun koresponden saya yang mencoba
mendemonstrasikan dengan jelas dan konkrit, disertai dengan contoh,
dimana terjadinya pelanggaran demokrasi.

Di pihak yang lain, saya, sebagai pengamat dari luar, menilai bahwa,
berdasarkan koran-koran dan buletin-buletin organisasi saudara,
diskusi didalam organisasi saudara dilaksanakan dengan kebebasan
penuh. Buletin-buletin kebanyakan diisi oleh representasi dari
kelompok kecil minoritas. Saya diberitahukan bahwa hal yang sama
adalah benar di dalam pertemuan-pertemuan diskusi. Keputusan-keputusan
belumlah dilaksanakan. Secara pasti, mereka akan dilaksanakan melalui
konferensi dengan pemilihan yang bebas. Maka dari itu, dimanakah
pelanggaran demokrasi tersebut memanifestasikan dirinya? Ini sangat
sulit dimengerti.

Terkadang, menilai dari nada surat-surat tersebut atau dalam kata lain
dari absennya struktur di dalam pengaduan-pengaduan tersebut, tampak
bahwa sang pengadu semata-mata tidak puas bahwa mereka adalah kelompok
minoritas sekalipun adanya demokrasi. Dari pengalaman saya sendiri,
saya tahu bahwa ini tidaklah menyenangkan. Tetapi, apakah ada
pelanggaran demokrasi?

Saya juga tidak berpikir bahwa saya mampu memberikan sebuah formula
tentang demokratik sentralisme yang dapat secara `mutlak’
menghilangkan kesalahpahaman dan penafsiran yang keliru. Sebuah partai
adalah sebuah organisme yang aktif. Dia berkembang di dalam
pergelutannya dengan rintangan dari luar dan kontradiksi dari dalam.

Keruntuhan International Kedua dan International Ketiga, di bawah
kondisi jaman imperialisme yang sangatlah sukar, menciptakan kesulitan
yang tidak pernah terlihat di dalam sejarah bagi International
Keempat. Kita tidak akan bisa mengatasinya dengan formula ajaib.
Sistem pemerintahan (rezim) sebuah partai tidaklah jatuh siap dari
langit tetapi terbentuk setahap demi setahap dari perjuangan. Garis
politik mendominasi sistem pemerintahan. Pertama-tama, adalah perlu
untuk menentukan masalah-masalah strategi dan metode taktik secara
tepat supaya bisa dipecahkan. Bentuk organisasi haruslah sesuai dengan
strategi dan taktik.

Hanya kebijaksanaan yang tepat dapat memastikan pemerintahan partai
yang sehat. Ini dimengerti bahwa ini tidak berarti bahwa perkembangan
sebuah partai tidak akan menghasilkan problem-problem organisasi.
Tetapi, ini berarti bahwa formula demokratik sentralisme
mengekspresikan dirinya secara berbeda di dalam partai-partai dari
negara-negara yang berbeda dan di dalam tahap-tahap perkembangan yang
berbeda di dalam sebuah partai yang sama.

Demokrasi dan sentralisme sama sekali tidak menemukan diri mereka
sendiri di dalam sebuah rasio yang konstan. Semua tergantung daripada
keadaan yang konkrit, daripada situasi politik di dalam negara,
daripada kekuatan partai dan pengalamannya, daripada kualitas
anggotanya, daripada otoritas yang sudah berhasil dimenangkan oleh
kepemimpinan. Sebelum konferensi, bilamana masalahnya adalah perumusan
garis politik untuk periode kedepan, demokrasi berjaya daripada
sentralisme.

Bilamana masalahnya adalah aksi politik, sentralisme menjadikan
demokrasi sebagai bawahannya. Demokrasi kembali menegaskan haknya
bilamana partai merasakan perlu untuk memeriksa aksi-aksinya sendiri
secara kritis. Keseimbangan antara demokrasi dan sentralisme
mendasarkan dirinya didalam perjuangan yang aktuil, ada saatnya dia
dilanggar dan kemudian kembali diterapkan. Kedewasaan dari setiap
anggota partai mengekspresikan dirinya terutama melalui kenyataan
bahwa dia tidak menuntut dari rezim partai lebih dari apa yang rezim
partai bisa berikan. Seseorang yang menentukan sikapnya terhadap
partai berdasarkan insentif individual yang dia dapat adalah
revolusioner yang payah.

Adalah perlu, tentu saja, untuk memerangi setiap kesalahan individual
dari kepemimpinan, setiap ketidakadilan, dan hal-hal yang serupa.
Tetapi adalah perlu untuk menilai ketidakadilan dan kesalahan tersebut
bukan secara terpisah tetapi berhubungan dengan perkembangan partai
secara menyeluruh dalam skala nasional dan internasional.

Sebuah pertimbangan yang tepat dan naluri perbandingan di dalam
politik adalah hal yang sangatlah penting. Seseorang yang mempunyai
tendensi untuk menciptakan gunung dari timbunan tanah dapat merugikan
dirinya sendiri dan partai. Nasib malang dari orang-orang seperti
Oehler, Field, Weisbord, dan yang lainnya datang dari absennya naluri
perbandingan dari mereka.

Pada saat ini, tidaklah sedikit orang-orang yang setengah
revolusioner, yang lelah dari kekalahan-kekalahan, takut akan
kesulitan, orang muda yang menua yang mempunyai keraguan dan
kepongahan lebih dari kemauan untuk berjuang. Daripada secara serius
menganalisa isu-isu pokok politik, individu-individu tersebut mencari
solusi tunggal untuk semua problem, dalam setiap kesempatan mengeluh
tentang sistem pemerintahan partai, menuntut mujizat dari
kepemimpinan, atau mencoba menutupi sikap skeptis mereka dengan
celoteh ultra-kiri yang kekanakan-kanakan. Saya khawatir bahwa kaum
revolusioner tidak akan meninggalkan elemen-elemen tersebut kecuali
bila mereka merubah diri mereka sendiri. Di pihak yang lain, saya
tidak ragu bahwa generasi muda kaum pekerja akan mampu mengevaluasi
baik buruknya strategi dan program dari International Keempat dan akan
bergabung dibawah benderanya dalam jumlah yang bertambah besar. Setiap
revolusioner sejati yang memperhatikan kesalahan-kesalahan rezim
partainya harus pertama-tama menyatakan pada dirinya sendiri “Kita
harus membawa masuk kedalam partai satu lusin pekerja yang baru”.
Pekerja muda tersebut akan membuat para skeptis, pengeluh, dan pesimis
untuk bersikap layak. Hanya melalui jalan tersebutlah sebuah rezim
partai yang sehat bisa diterapkan di seksi-seksi dari International
Keempat.

Sosialisme Borjuis Kecil dan Sosialisme Proletar

Sosialisme Borjuis Kecil dan Sosialisme Proletar
V. I. Lenin (1905)
Diterbitkan: 7 November (25 Oktober) 1905 dalam Proletary No. 24 dan Collected Works, Volume 9, halaman 438-46

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Progress Publishers, Moskow, USSR, 1966

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim

Dari bermacam doktrin sosialis, Marxisme-lah yang saat ini paling dominan di Eropa. Perjuangan untuk mencapai masyarakat sosialis hampir sepenuhnya dipahami oleh Marxisme sebagai perjuangan kelas buruh di bawah pimpinan partai-partai Sosial-Demokratis. Dominasi sosialisme proletariat ini berdasar pada ajaran Marxisme tidak dicapai seketika, tetapi semata setelah terjadi perjuangan panjang menentang bermacam doktrin usang, sosialisme borjuis kecil, anarkisme dan lain-lain. Sekitar 30 tahun yang lalu Marxisme tidak dominan, sekalipun di Jerman. Pandangan yang berlaku di negara tersebut bersifat transisi, bercampur baur dan eklektis, terletak diantara sosialisme borjuis kecil dan sosialisme proletariat. Doktrin-doktrin yang paling menyebar dikalangan buruh maju di negara-negara Romawi, di Perancis, Spanyol dan Belgia adalah Proudhonisme, Blanquisme [1] dan anarkisme yang nyata-nyata mengekspresikan cara pandang borjuis kecil, bukan proletariat. Apa yang menyebabkan cepat dan tuntasnya kemenangan Marxisme dalam dekade terakhir ini? Ketepatan pandangan Marxis dalam banyak hal telah dibuktikan oleh semua perkembangan masyarakat kontemporer baik ekonomi maupun politik, dan oleh seluruh pengalaman gerakan revolusioner serta perjuangan kelas-kelas tertindas. Kemunduran borjuis kecil, cepat atau lambat, tak dapat dielakkan akan mengakibatkan kepunahan segala macam prasangka borjuis kecil. Sementara itu tumbuhnya kapitalisme dan kian dalamnya perjuangan kelas dalam masyarakat kapitalis jadi agitasi terbaik bagi gagasan sosialisme proletar. Keterbelakangan Rusia itulah pada dasarnya yang bisa menjelaskan tetap kokohnya bermacam doktrin sosialis usang di sana. Seluruh sejarah aliran pemikiran revolusioner Rusia sepanjang perempat terakhir abad 19 adalah sejarah perjuangan Marxisme melawan sosialisme borjuis kecil Narodnik. [2] Meskipun kemajuan pesat dan keberhasilan luar biasa gerakan kelas pekerja Rusia pun sudah berhasil membuahkan kemenangan bagi Marxisme di Rusia tapi berkembangnya sebuah gerakan petani yang jelas revolusioner – khususnya revolusi petani terkenal di Ukraina tahun 1902 [3] – di satu sisi malah membangkitkan lagi Narodnisme kuno. Teori-teori Narodnik yang kuno dengan diwarnai oleh oportunisme Eropa yang populer masa itu (Revisionisme, Bernteinsime [4] dan kritisisme atas Marx), mendadani seluruh persediaan ideologis asli golongan yang umum disebut Sosialis-Revolusioner. [5] Itulah sebabnya mengapa masalah kaum petani menonjol dalam pertentangan Marxis melawan Narodnik sejati maupun golongan sosialis-revolusioner.

Untuk satu hal tertentu, Narodnisme adalah sebuah doktrin yang integral dan konsisten. Narodnisme menolak adanya dominasi kapitalisme di Rusia; menentang peran buruh pabrik sebagai pemimpin garis depan perjuangan kaum proletar; menolak pentingnya sebuah revolusi politik dan kebebasan politik borjuis; ia menyerukan perlu segera dilaksanakannya sebuah revolusi sosialis yang berangkat dari komune petani berikut bentuk-bentuk pertanian kecil-nya. Semua yang masih bertahan dalam teori integral ini sekarang hanyalah serpihan-serpihan saja, tapi untuk secara pandai memahami kontroversi-kontroversi yang berlangsung saat ini,dan menjaga supaya kontroversi itu tidak melorot menjadi sekedar perang mulut, orang semestinya ingat akar-akar Narodnik yang paling dasar dan umum yang sekaligus merupakan akar kesalahan Sosialis-Revolusioner kita.

Kaum Narodnik beranggapan bahwa kaum Muzhik adalah manusia Rusia masa depan. Pandangan ini tak pelak berkembang karena keyakinan mereka pada masa depan kapitalisme. Sedangkan kaum Marxis beranggapan bahwa buruh pekerja adalah manusia masa depan, dan perkembangan kapitalisme Rusia baik di bidang pertanian maupun industri makin menegaskan pandangan mereka. Gerakan kelas pekerja di Rusia telah berhasil memperoleh pengakuan bagi keberadaannya sendiri. Tetapi bagi gerakan petani, masih ada jurang pemisah antara Narodisme dan Marxisme hingga sekarang, yang mana hal ini terungkap dalam penafsiran mereka yang berbeda atas gerakan (petani) ini. Bagi kaum Narodnik, gerakan petani tersebut dengan sendirinya membuktikan kekeliruan Marxisme. Ini adalah gerakan yang bekerja untuk suatu revolusi sosialis yang langsung; gerakan ini tidak mengakui kebebasan politik borjuis; gerakan yang berangkat dari produksi skala kecil dan bukan produksi berskala besar. Singkatnya, bagi kaum Narodnik, gerakan petani lah yang benar-benar sosialis sejati dan segera merupakan gerakan sosialis. Kesetiaan Narodnik pada komune petani dan bentuk tertentu anarkisme Narodnik sepenuhnya bisa menjelaskan mengapa kesimpulan demikian yang selalu terumuskan. Bagi kaum Marxis, gerakan petani adalah gerakan demokratik, bukan gerakan sosialis. Di Rusia, seperti juga kasus di negara-negara lain, gerakan ini pasti sejalan dengan revolusi demokratik, revolusi yang borjuis kandungan sosial ekonominya. Gerakan yang sampai titik akhirnya memang tidak ditujukan untuk menggoyang pondasi tatanan borjuis, menentang prodksi komoditi atau melawan kapital. Sebaliknya gerakan itu ditujukan untuk menentang hubungan pra-kapitalis, hubungan perhambaan kuno di wilayah pedesaan dan melawan tuan-tanahisme, yang menjadi kunci seluruh kelangsungan hidup pemilikan hamba-hamba. Konsekuensinya kemenangan penuh gerakan petani ini tak akan menghapus kapitalisme; malahan sebaliknya, gerakan ini akan menciptakan pondasi lebih luas lagi bagi perkembangan kapitalisme, akan mempercepat serta memperdalam perkembangan kapitalis sejati. Kemenangan penuh pemberontakan kaum petani hanya bisa menciptakan benteng bagi republik demokrasi borjuis, yang didalamnya tumbuh untuk pertama kalinya suatu perjuangan proletariat melawan kehendak borjuasi dalam bentuk yang paling murni. Lantas, ada dua pandangan bertentangan yang harus dimengerti dengan jelas oleh siapapun yang ingin mempelajari jurang perbedaan prinsipil antara Sosialis-Revolusioner dan Sosialis-Demokrat. Merujuk ke salah satu pandangan, gerakan petani adalah gerakan sosialis, sedangkan merujuk ke pandangan lain gerakan petani adalah gerakan borjuis-demokratik. Dengan ini orang bisa lihat betapa gobloknya ungkapan orang-orang Sosialis-Revolusioner kita ketika mereka mengulang beratus kali (lihat, misalnya, dalam Revolutsionnaya Rossiya, no. 75) bahwa Marxis ortodoks telah mengabaikan masalah petani. Hanya ada satu cara untuk memberantas kebodohan berbahaya macam ini dan itu bisa diakukan dengan mengulang ABC; menyusun pandangan-pandangan Narodnik yang secara konsisten sudah kuno itu, dan beratus bahkan beribu kali menekan bahwa perbedaan yang sesungguhnya di antara kita itu tidak terletak pada soal berhasrat atau tidak berhasrat pada masalah petani, juga tidak terletak pada mengakui atau tidak mengakui masalah petani, tapi terletak pada perbedaan penilaian kita atas gerakan petani dan masalah petani saat ini di Rusia. Dia yang berkata bahwa Marxis mengabaikan masalah petani di Rusia adalah, pertama, seorang pengabai absolut. Sebab seluruh tulisan prinsipil Marcis Rusia, mulai dari tulisan Plekhanov Our Differences (muncul kurang lebih 20 tahun yang lalu), telah mencurahkan tenaga untuk menjelaskan kesalahan pandangan-pandangan kaum Narodnik mengenai masalah petani Rusia. Kedua, dia yang menyatakan bahwa Marcis mangabaikan masalah petani jelas menunjukkan hasratnya untuk menghindari keharusan memberi penilaian yang lengkap atas perbedaan prinsipil yang sesungguhnya, memberi jawaban atas pertanyaan apakah gerakan petani sekarang ini adalah gerakan borjuis atau tidak, apakah gerakan itu secara obyektif diarahkan untuk menghancurkan kelangsungan hidup penghambaan atau tidak.

Kaum Sosialis-Revolusioner tidak pernah memberikan, dan tidak selalu dapat memberikan satu jawaban jelas dan tepat pada masalah itu karena mereka menggapai-gapai tanpa harapan di antara pandangan kuno Narodnik dan pandangan Marxis saat ini mengenai masalah petani di Rusia. Kaum Marxis menyatakan bahwa kaum Sosialis-Revolusioner mewakili pendirian kaum borjuis kecil (mereka adalah ideolog kaum borjuis kecil) dengan alasan yang kuat bahwa mereka tidak dapat membersihkan diri dari ilusi-ilusi kaum borjuis kecil dan bayangan Narodnik dalam menilai gerakan buruh tani.

Itulah sebabnya mengapa kita mengulang ABC sekali lagi. Untuk apakah perjuangan kaum petani di Rusia saat ini? Untuk tanah dan kebebasan. Arti penting apa yang bakal dimiliki oleh seluruh kemenangan gerakan ini? Setelah meraih kemerdekaan, gerakan tersebut akan menghapuskan kekuasaan para tuan tanah dan birokrasi dalam adiminstrasi negara. Setelah berhasil menjaga tanah, gerakan itu akan memberikan tanah para tuan tanah kepada para petani. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah dari para tuan tanah tersebut juga berarti penghapusan produksi komoditi? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah tersebut mengganti bentuk pertanian individual dengan bentuk rumah tangga petani atas dasar, tanah komunal, atau tanah yang “disosialkan”? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah menjembatani jurang dalam yang memisahkan petani kaya, yang memiliki sekian kuda dan sapi, dari pertanian-cangkulan, buruh harian, misalnya: jurang pemisah antara borjuis petani dengan proletar pedesaan? Tidak, tidak akan! Sebaliknya, makin tuntas sosial-estate (para Tuan Tanah) yang paling tinggi itu dienyahkan dan dilenyapkan maka akan makin dalamlah perbedaan kelas antara borjuis dan proletariat. Apakah yang secara obyektif bakal punya arti dengan adanya kemenangan penuh kebangkitan perlawanan buruh tani? Kemenangan tersebut akan menghilangkan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, tetapi sama sekali tidak menghancurkan sistem ekonomi borjuis atau menghancurkan kapitalisme atau menghancurkan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas – ke dalam golongan kaya dan miskin, borjuis dan proletar. Mengapa gerakan petani saat ini adalah gerakan borjuis-demokratik? Karena setelah menghancurkan kekuasaan birokrasi dan tuan-tuan tanah, gerakan itu akan menyusun sebuah sistem masyarakat demokratik, tapi bagaimanapun juga, itu dilakukan tanpa mengubah pondasi borjuis dari masyarakat demokratis tersebut, tanpa menghapuskan kekuasaan kapital. Bagaimanakah seharusnya buruh berkesadaran kelas, kaum sosialis, memandang gerakan petani saat ini? Ia harus mendukung gerakan ini, menolong petani dalam kondisi yang paling bertenaga, menolong mereka menyingkirkan tuntas segala kekuasaan birokrasi dan kekuasaan tuan-tuan tanah. Bagaimanapun, pada saat yang sama mereka harus menjelaskan kepada para petani bahwa tidak cukup cuma merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah. Ketika mereka merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah tersebut, saat itu juga mereka harus bersiap untuk menghapuskan kekuasaan kapital, kekuasaan borjuis, dan untuk maksud ini maka suatu doktrin yang sepenuhnya berwatak sosialis; yaitu Marxist, harus segera disebar, proletariat pedesaan harus dipersatukan, digalang bersama dan diorganisir untuk perjuangan melawan borjuis petani dan semua borjuis Rusia. Dapatkah seorang buruh yang berkesadaran kelas melupakan perjuangan demokratik demi perjuangan sosalis, atau melupakan perjuangan sosialis demi perjuangan demokratik? Tidak, seorang buruh yang berkesadaran kelas akan menyebut dirinya seorang sosial demokrat karena ia memahami kaitan dua perjuangan tersebut. Dia tahu bahwa tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan jalan menuju sosialisme selain melalui demokrasi, kebebasan politik. Karenanya ia berjuang mencapai demokrasi sepenuhnya dan sekonsisten mungkin untuk mencapai tujuan puncak – sosialisme. Mengapa kondisi untuk perjuangan demokratik tidak sama dengan kondisi untuk perjuangan sosialis? Karena para buruh pekerja pasti akan memiliki sekutu yang berbeda di masing-masing dua perjuangan ini. Perjuangan demokratik dilakukan oleh buruh bersama dengan satu bagian dari borjuis, khususnya borjuis kecil. Di lain pihak, perjuangan sosialis dilakukan oleh buruh pekerja melawan seluruh borjuasi. Perjuangan melawan birokrat dan para tuan tanah dapat dan harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh petani, bahkan bersama petani berkecukupan dan petani menengah. Di lain pihak, cuma berjuang bersama proletariat pedesaan sajalah, maka perjuangan melawan borjuis, dan karenanya juga berarti melawan petani berkecukupan, bisa diakukan dengan tepat. Bila kita selalu mengingat semua kebenaran Marxis yang elementer ini, yang oleh kaum Sosialis-Revolusioner selalu lebih suka dihindari, maka kita tak akan punya banyak kesulitan dalam menilai keberatan kaum Sosialis-Revolusioner “yang terakhir” atas Marxisme, seperti berikut ini:

“Mengapa itu perlu?” seruan dalam Revolutsionnaya Rossiya (no. 75), “Pertama mendukung kaum petani secara umum dalam melawan para tuan tanah, dan kemudian (yaitu, pada saat yang sama) mendukung kaum proletar menentang seluruh kaum petani, yang sekaligus sebagai ganti dari tindakan mendukung kaum proletar menentang para tuan tanah; dan apa yang Marxisme harus lakukan setelah itu, hanya surga yang tahu.”

Ini adalah titik pandang anarkisme paling primitif, yang naif kekanak-kanakan. Selama berabad-abad dan bahkan ribuan tahun, manusia bermimpi melenyapkan “secara sekaligus” segala bentuk dan jenis penghisapan. Mimpi ini tetap sekedar mimpi sampai jutaan orang di seluruh dunia yang dihisap mulai bersatu untuk melakukan perjuangan konsisten, kokoh dan komprehensif merubah masyarakat kapitalis dalam arahan evolusi masyarakat tersebut yang terjadi secara alamiah. Mimpi-mimpi sosialis beralih menjadi perjuangan sosialis berjuta manusia hanya ketika sosialisme ilmiah Marx berhasil mengkaitkan desakan untuk berubah dengan perjuangan dari suatu kelas tertentu. Di luar perjuangan kelas, sosialisme hanyalah ungkapan kosong dan mimpi naif. Bagaimanapun, di Rusia, dua bentuk perjuangan yang berbeda dari dua kekuatan sosial yang berbeda tengah berlangsung di belakang penglihatan kita. Kaum proletar sedang berjuang melawan borjuasi, dimanapun hubungan-hubungan produksi kapitalis itu ada (dan hubungan produksi kapitalis itu ada – ini patut diketahui kaum revolusioner kita – bahkan dalam komune petani, misalnya: di tanah-tanah yang menurut titik pandang mereka telah seratus persenn “disosialisasikan”). Sedang sebagai bagian dari strata pemilik tanah kecil, borjuis kecil, kaum petani berjuang melawan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, melawan birokrat dan para tuan tanah. Hanya mereka yang benar-benar mengabaikan ekonomi politik dan sejarah revolusi-revolusi dunia yang bisa keliru melihat bahwa ini adalah dua perang sosial yang terpisah dan berbeda. Menutup mata terhadap perbedaan perang-perang tersebut dengan cara menuntut suatu gerakan yang “sekaligus” sama saja menyembunyikan kepala di bawah ketiak orang dan menolak membuat analisis realita. Kaum sosialis-revolusioner yang telah kehilangan integritas pandangan-pandangan kuno Narodnik, bahkan telah merupakan ajaran-ajaran Narodnik itu sendiri. Seperti itu-itu juga ditulis dalam Revolutsionnaya Rossiya dalam artikel yang sama: “Dengan menolong kaum petani untuk mengenyahkan tuan tanah, tuan Lenin tanpa sadar sudah membantu berdirinya ekonomi borjuis kecil di atas reruntuhan pertanian kepitalis yang kurang lebih sudah berkembang. Tidakkah ini sebuah “langah mundur” dari titik pandang Marxisme ortodoks?”

Memalukan, saudara-saudara!! Mengapa anda lupa dengan tulisan orang-orang anda sendiri, Mr. V.V.! Periksa tulisannya, Destiny of Capitalism, juga Sketches, tulisan tuan Nikolai-on, [6] dan sumber-sumber lain tentang bijaknya anda. Anda kemudian akan mengingat kembali bahwa pertanian tuan tanah di Rusia itu memadukan dalam dirinya gambaran baik kapitalisme dan pemilikan hamba-hamba. Kemudian anda akan menemukan bahwa terdapat suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada sewa buruh, suatu sistem yang langsung mempertahankan sistem kerja tanpa upah. Jika lebih jauh lagi anda mencari pemecahan kesulitan tersebut pada buku macam Marxis ortodoks, seperti volume ke tiga Kapital-nya Marx, [7] anda akan temui bahwa dimanapun tak ada sistem kerja tanpa upah yang berkembang, dan dimanapun sistem itu tak bisa berkembang serta kemudian berubah menjadi pertanian kapitalis kecuali melalui perantaraan pertanian petani borjuis kecil. Dalam usaha anda menghalau Marxisme, anda malah mundur ke metode yang terlalu primitif, metode yang sudah demikian lampau digunakan; pada Marxisme secara langsung anda memberikan satu konsepsi pertanian kapitalis skala besar yang amat dangkal dan aneh melebihi konsep pertanian skala besar dengan dasar sistem kerja tanpa upah. Anda berpendapat bahwa karena hasil pertanian di tanah milik tuan tanah itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian petani maka perampasan tanah milik tuan tanah adalah suatu langkah yang terbelakang. Argumentasi ini layak dinyatakan oleh seorang anak sekolah dasar kelas 4. Sekedar pertimbangan, Tuan-tuan: memisahkan hasil-rendah tanah petani dari hasil-tinggi perkebunan tuan-tuan tanah ketika perbudakan dihapuskan, tidakkah itu merupakan sebuah “langkah mundur”?

Sistem ekonomi tuan tanah di Rusia saat ini merupakan perpaduan antara ciri-ciri kapitalisme dan pemilikan-perhambaan. Secara obyektif, saat ini perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah adalah perjuangan melawan kelangsungan hidup perhambaan. Tapi mencoba menghitung seluruh kasus individual, mempertimbangkan setiap kasusnya dan menentukan secara tepat dengan ukuran skala seorang ahli obat, untuk menemukan kapan berakhirnya masa pemilikan-perhambaan dan kapitalisme dimulai, itu berarti mencoba menganggap Marxis sama dengan sifat teliti dan cermat. Kita tidak bisa menghitung bagian apa dari harga bahan-bahan yang dibeli dari sebuah toko kecil, yang mewakili nilai lebih dan bagian apa dari harga itu yang mewakili penipuan atas kerja buruh, dan sebagainya. Apakah itu berarti kita harus membuang teori nilai kerja, saudara-saudara?

Ekonomi tuan tanah kontemporer memadukan gambaran kapitalisme dan perhambaan. Tetapi dari kenyataan tersebut hanya ilmuwan saja yang bisa berkesimpulan bahwa inilah tugas kita untuk mempertimbangkan, menghitung dan memaparkan tiap menit gambaran dalam katagori sosial ini dan itu. Oleh karenanya hanya kaum utopialah yang dapat berkesimpulan bahwa, “tidak ada kebutuhan” bagi kita untuk melukiskan perbedaan di antara dua perang sosial yang berbeda. Sehingga sebenarnya, satu-satunya kesimpulan sesungguhnya yang muncul adalah bahwa baik dalam program maupun taktik, kita harus memadukan perjuangan proletariat yang sejati melawan kapitalisme dengan perjuangan demokrasi secara umum (dan petani secara umum) melawan penghambaan.

Makin jelas gambaran kapitalis pada ekonomi tuan tanah semifeodal saat ini, maka makin mendesak keharusan untuk mengorganisir proletariat pedesaan secara terpisah, karena ini akan lebih cepat menolong kapitalis sejati atau proletariat sejati, pihak yang berantagonisme ini menegaskan posisi mereka dimanapun perampasan tanah terjadi. Makin jelas gambaran kapitalis dalam ekonomi tuan tanah, makin cepat perebutan yang demokratik memberi dorongan pada perjuangan yang sesungguhnya untuk sosialisme – dan konsekuensinya, makin bahayanya membangun cita-cita palsu revolusi demokratik melalui pemakaian slogan “sosialisasi”. Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari kenyataan bahwa ekonomi tuan tanah adalah percampuran antara kapitalisme dan hubungan-hubungan pemilikan-perhambaan.

Jadi kita harus menggabungkan perjuangan proletar yang sejati dengan perjuangan petani pada umumnya, tetapi tidak mencampuradukan keduanya. Kita harus mendukung perjuangan demokratik dan perjuangan petani secara umum, tetapi tidak menenggelamkan diri dalam perjuangan yang tak berwatak kelas itu; kita tidak pernah boleh mencita-citakan perjuangan itu dengan slogan-slogan palsu seperti “sosialisasi”, atau melupakan kebutuhan untuk mengorganisir kaum proletariat urban dan pedesaan dalam sebuah partai kelas yang sepenuhnya mandiri dari Sosial-Demokrasi. Sambil memberikan dukungan sepenuhnya para demokratisme yang paling kokoh, partai tersebut tidak akan membolehkan dirinya dialihkan dari jalan revolusioner oleh mimpi-mimpi reaksioner dan usaha coba-coba melakukan “persamaan” dalam sistem produksi komoditi. Perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah saat ini merupakan sebuah perjuangan revolusioner; perampasan tanah-tanah milik para tuan tanah pada tahap sekarang dari suatu evolusi ekonomi dan politik adalah revolusioner dalam setiap seginya dan kita mendukung serta menjaga tindakan Revolusioner-Demokratik ini. Tapi menyebut tindakan ini adalah “sosialisasi”, dan menipu dirinya maupun rakyat dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya “persamaan” dalam pola penguasaan tanah di bawah sistem produksi komoditi, merupakan utopia kaum borjuis kecil yang reaksioner, pandangan yang kita letakkan pada kaum Sosialis-Reaksioner.

Catanan

1. Proudhonisme adalah sebuah aliran yang namanya berasal dari nama Pierre Joseph Proudhon (1809-1865), seorang sosialis borjuis kecil dan anarkis Perancis. Meskipun tajam mengkritik masyarakat kapitalis, Proudhon gagal memahami bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri kemiskinan, ketidaksamaan, penghisapan dan kebusukan-kebusukan hubungan kapitalis lainnya adalah dengan menghapuskan hubungan itu. Blanquisme adalah sebuah trend dalam gerakan sosialis Perancis yang diwakili oleh tokoh revolusioner terkemuka dan eksponen komunisme utopia: Louise Auguste Blanqui (1805-1881). Menurut Lenin, kaum Blanquis “mengharapkan umat manusia akan dibebaskan dari perbudakan upah, tidak melalui perjuangan kelas tetapi melalui suatu persekongkolan yang ditumbuhkan oleh sekelompok kecil intelektual.” (V. I. Lenin, Collected Works, vol. 10, hal.392).

2. Narodisme adalah sebuah trend borjuis kecil dalam gerakan revolusioner Rusia tahun 1860 an dan 1870 an.

3. Suatu referensi pada aksi-aksi revolusioner kaum petani gubernia Poltava dan Kharkov di wilayah Ukraina (Rusia Kecil) akhir bulan Maret dan awal April 1902. Revolusi-revolusi itu dipercepat oleh kondisi petani yang sangat berat dan diperburuk oleh kegagalan panen dan kelaparan. Kaum petani menyerang tanah-tanah milik tuan-tuan tanah, merampas makanan dan makanan ternak serta menuntut redistribusi tanah. Gerakan ini dipadamkan dengan kekerasan.

4. Bernsteinisme adalah trend oportunis dalam gerakan Sosial Demokrat internasional pada akhir abad 19. Paham tersebut mengambil nama dari seorang revisionis, Eduard Bernstein (1850-1932), pemimpin sayap kanan ekstrim partai Sosialis-Demokrat Jerman dan Internasional kedua. Bernstein menentang perjuangan revolusioner oleh kelas buruh dan diktator proletariat, menyerukan kolaborasi antara golongan proletar dan borjuis dan menggaungkan slogan: “Gerakan adalah segalanya, tujuan akhir bukan apa-apa”, yang berarti mengganti perjuangan revolusioner untuk sosialisme dengan perjuangan untuk reformasi dalam kerangka negara borjuis.

5. Sosialis-Revolusioner (S.R.s) adalah sebuah partai borjuis kecil di Rusia yang terbentuk akhir tahun 1901 dan awal tahun 1902. Organ-organ resminya adalah koran Revolutsionnaya Rossiya (Rusia Revolusioner) (1900-1905) dan majalah Vetsnik Russkoi Revolutsii (Majalah Revolusi Rusia) (1901-1905).

6. V.V. adalah nama samaran V.P. Vorontsov, penulis buku Destiny of Capitalism in Russia. Nikolai-on adalah nama samaran N. Danielson, penulis buku Sketches on Our Post-Reform Socialist Economy. Voronstsov dan Danielson adalah idolog Narodisme Liberal di tahun 1880-an dan tahun 1890-an.

7. Lihat Karl Marx, Capital, Volume III, Bab. XVLII (“Genesis of Capitalist Ground-Rent” – “Munculnya sewa tanah kapitalis”).

TIGA SUMBER DAN KOMPONEN MARXISME

TIGA SUMBER DAN KOMPONEN MARXISME
Di segenap penjuru dunia yang beradab, ajaran-ajaran Marx ditentang dan diperangi oleh semua ilmu pengetahuan borjuis (baik pejabat resmi -official- maupun kaum liberal), yang memandang Marxisme semacam “sekte jahat”. Tidak bisa diharapkan adanya sikap lain, karena tidak ada ilmu sosial yang netral dalam suatu masyarakat yang berbasiskan perjuangan klas. Lewat satu dan lain cara, semua pejabat resmi dan ilmuwan liberal, membela perbudakan upahan (wage slavery). Sedangkan Marxisme telah jauh-jauh hari menyatakan perang tanpa henti terhadap perbudakan itu. Mengharapkan sikap netral dari ilmu pengetahuan dalam masyarakat perbudakan upahan adalah bodoh, sama naifnya dengan mengharapkan sikap netral dari para pemilik pabrik dalam menghadapi pertanyaan apakah upah buruh dapat dinaikkan tanpa mengurangi keuntungan modal.
Tapi bukan hanya itu. Sejarah filosofi dan sejarah ilmu-ilmu sosial memperlihatkan dengan jelas bahwa dalam Marxisme tidak terdapat adanya “sektarianisme”, dalam artian adanya doktrin-doktrin yang sempit dan picik , doktrin yang dibangun jauh dari jalan raya perkembangan peradaban dunia. Sebaliknya, si jenius Marx dengan tepat menempatkan jawaban-jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pikiran-pikiran termaju dari umat manusia. Doktrin-doktrinnya bangkit sebagai kelanjutan langsung dari ajaran-ajaran besar dalam bidang filosofi, ekonomi-politik, dan sosialisme.
Doktrin-doktrin Marxist bersifat serba guna karena tingkat kebenarannya yang tinggi. Juga komplit dan harmonis, serta melengkapi kita dengan suatu pandangan dunia yang integral, yang tidak bisa dipersatukan dengan berbagai macam tahyul, reaksi, atau tekanan dari pihak borjuis. Marxisme merupakan penerus yang sah dari beberapa pemikiran besar umat manusia dalam abad 19, yang direpresentasikan oleh filsafat klasik Jerman, ekonomi-politik Inggris dan sosialisme Prancis.
Inilah tiga sumber dari Marxisme, yang akan kita bahas secara ringkas beserta komponen-komponennya.
Filsafat yang dipakai Marxisme adalah materialisme. Sepanjang sejarah Eropa modern, dan khususnya pada akhir abad 18 di Prancis, di mana terdapat perjuangan yang gigih terhadap berbagai sampah dari abad pertengahan, terhadap perhambaan dalam berbagai lembaga dan gagasan, materialisme terbukti merupakan satu-satunya filosofi yang konsisten, benar terhadap setiap cabang ilmu alam dan dengan gigih memerangi berbagai bentuk tahyul, penyimpangan dan seterusnya. Musuh-musuh demokrasi selalu berusaha untuk “menyangkal”, mencemari dan memfitnah materialisme, membela berbagai bentuk filosofi idealisme, yang selalu, dengan satu dan lain cara, menggunakan agama untuk memerangi materialisme.

Marx dan Engels membela filosofi materialisme dengan tekun dan berulangkali menjelaskan bagaimana kekeliruan terdahulu adalah setiap penyimpangan dari basis ini. Pandangan-pandangan mereka dijelaskan secara panjang lebar dalam karya Engels, Ludwig Feuerbach dan Anti-Duhring[2], yang seperti halnya Communist Manifesto,merupakan buku pegangan bagi setiap pekerja yang memiliki kesadaran kelas.
Tetapi Marx tidak berhenti pada materialisme abad 18: ia mengembangkannya lebih jauh, ke tingkat yang lebih tinggi. Marx memperkaya materialisme dengan penemuan-penemuan dari filosofi klasik Jerman, khususnya sistem Hegel, yang kemudian mengarah kepada pemikiran Feuerbach. Penemuan yang paling penting adalah dialektika, yaitu doktrin tentang perkembangan dalam bentuknya yang paling padat, paling dalam dan amat komprehensif. Doktrin tentang relativitas pengetahuan manusia yang melengkapi kita dengan suatu refleksi terhadap materi-materi yang terus berkembang. Penemuan-penemuan terbaru dalam bidang ilmu alam: radium, elektron, transmutasi elemen, merupakan bukti nyata dari materialisme dialektis yang diajarkan Marx, berbeda dengan dengan ajaran-ajaran para filosof borjuis dengan idealisme mereka yang telah usang dan dekaden.
Marx memperdalam dan mengembangkan filosofi materialisme sepenuhnya, serta memperluas pengenalan terhadap alam dengan memasukkan pengenalan terhadap masyarakat manusia. Materialisme Historisnya yang dialektis merupakan pencapaian besar dalam pemikiran ilmiah. Kekacauan yang merajalela dalam berbagai pandangan sejarah dan politik digantikan dengan suatu teori ilmiah yang amat integral dan harmonis, yang memperlihatkan bagaimana, dalam konsekwensinya dengan pertumbuhan kekuatan-kekuatan produktif, suatu sistem kehidupan sosial muncul dari sistem kehidupan sosial yang ada sebelumnya dan berkembang melalui berbagai tahapan–contoh kongkretnya: kapitalisme yang muncul dari feodalisme.
Seperti halnya pengetahuan manusia merefleksikan alam (yang merupakan materi yang berkembang), yang keberadaannya tidak tergantung dari manusia, begitu pula pengetahuan sosial (berbagai pandangan dan doktrin yang dihasilkan manusia–filosofi, agama, politik, dan seterusnya) merefleksikan sistem ekonomi dari masyarakat. Berbagai lembaga politik merupakan superstruktur di atas fondasi ekonomi. Kita melihat, sebagai contoh, bahwa berbagai bentuk politis dari negara-negara Eropa modern memperkuat dominasi pihak borjuasi terhadap pihak proletariat.
Filosofinya Marx merupakan filosofi materialisme terapan, yang mana membekali umat manusia, khususnya kelas pekerja, dengan alat-alat pengetahuan yang ampuh.
Setelah menyadari bahwa sistem ekonomi merupakan fondasi, yang di atasnya superstruktur politik didirikan, Marx mencurahkan sebagian besar perhatiannya untuk mempelajari sistem ekonomi ini. Karya Marx yang prinsipal, Das Kapital, merupakan hasil studinya yang mendalam terhadap sistem ekonomi modern: kapitalisme.

(Ilmu–pent) ekonomi politik yang klasik, sebelum Marx, berkembang di Inggris, negeri kapitalis yang paling maju saat itu. Adam Smith dan David Ricardo, dengan investigasi mereka terhadap sistem ekonomi, meletakkan dasar-dasar dari teori nilai kerja. Marx melanjutkan karya mereka, ia menguji teori itu dan mengembangkannya secara konsisten. Ia melihat bahwa nilai dari setiap komoditi ditentukan oleh kuantitas waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial, yang digunakan untuk memproduksi komoditi itu.
Jika para ahli ekonomi borjuis melihat hubungan antar-benda(pertukaran antar-komoditi), Marx memperhatikan hubungan antar-manusia. Pertukaran komoditi mencerminkan hubungan-hubungan di antara para produser individual yang terjalin melalui pasar. Uang memperlihatkan bagaimana hubungan itu menjadi semakin erat, yang tanpa terpisahkan menyatukan seluruh kehidupan ekonomi dari para produser menjadi satu keseluruhan. Modal (kapital) memperlihatkan suatu perkembangan lanjutan dari hubungan ini: tenaga kerja manusia menjadi suatu komoditi. Para pekerja upahan menjual tenaga kerjanya kepada para pemilik tanah, pemilik pabrik dan alat-alat kerja. Seorang pekerja menggunakan sebagian waktu kerjanya untuk menutup biaya hidupnya dan keluarganya (mendapat upah), sebagian lain waktu kerjanya digunakan tanpa mendapat upah, semata-mata hanya mendatangkan nilai lebih untuk para pemilik modal. Nilai lebih merupakan sumber keuntungan, sumber kemakmuran bagi kelas pemilik modal.
Doktrin tentang nilai lebih merupakan dasar (cornerstone) dari teori ekonomi yang dikemukakan oleh Marx.
Modal, yang diciptakan dari hasil kerja para pekerja, justru menghantam para pekerja, memporakporandakan para pemilik modal kecil dan menciptakan barisan pengangguran. Dalam bidang industri, kemenangan produksi berskala besar segera tampak, tetapi gejala yang sama juga dapat dilihat pada bidang pertanian, di mana keunggulan pertanian bermodal besar semakin dikembangkan. Penggunaan mesin-mesin pertanian ditingkatkan, mengakibatkan ekonomi para petani kecil terjebak oleh modal-uang, kemudian jatuh dan hancur berantakan disebabkan teknik produksi yang kalah bersaing. Penurunan produksi berskala kecil mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dalam bidang pertanian, akan tetapi proses penurunan itu sendiri merupakan suatu hal yang tidak terbantahkan.
Dengan menghancurkan produksi berskala kecil, modal mendorong peningkatan produktivitas kerja dan menciptakan posisi monopoli bagi asosiasi kapitalis besar. Produksi itu sendiri menjadi semakin sosial –ratusan ribu, bahkan jutaan pekerja diikat dalam suatu organisme ekonomi reguler– tapi hasil dari kerja kolektif ini dinikmati oleh sekelompok pemilik modal. Anarki produksi, krisis, kekacauan harga pasaran, serta ancaman terhadap sebagian terbesar anggota masyarakat, semakin memburuk.
Dengan mengembangkan ketergantungan para pekerja pada modal, sistem ekonomi kapitalis menciptakan kekuatan besar dari persatuan para pekerja.
Marx menyelidiki perkembangan kapitalisme dari ekonomi komoditi tahap awal, dari pertukaran yang sederhana, hingga bentuk-bentuknya yang tertinggi, produksi berskala besar.
Dan dari pengalaman negeri-negeri kapitalis, yang lama dan baru, dari tahun ke tahun, terlihat dengan jelas kebenaran dari doktrin-doktrin Marxian ini.
Kapitalisme telah menang di seluruh dunia, tetapi kemenangan ini hanyalah merupakan awal dari kemenangan para pekerja terhadap modal yang membelenggu mereka.

III
Ketika feodalisme tersingkir, dan masyarakat “merdeka” kapitalis muncul di dunia, maka muncullah suatu sistem untuk penindasan dan eksploitasi terhadap golongan pekerja. Berbagai doktrin sosialis segera muncul sebagai refleksi dari dan protes terhadap penindasan ini. Sosialisme pada awalnya, bagaimanapun, merupakan sosialisme utopis. Ia mengkritik masyarakat kapitalis, mengutuknya, memimpikan keruntuhan kapitalisme. Ia mempunyai gagasan akan adanya pemerintahan yang lebih baik yang berusaha membuktikan kepada orang-orang kaya bahwa eksploitasi itu tidak bermoral.
Namun sosialisme utopis tidak memberikan solusi nyata. Ia tak dapat menjelaskan sifat sebenarnya dari perbudakan upahan di bawah sistem kapitalisme. Ia tak mampu mengungkapkan hukum-hukum perkembangan kapitalis atau memperlihatkan kekuatan sosial apa yang mampu membentuk suatu masyarakat yang baru.
Sementara itu, berbagai revolusi terjadi di Eropa, khususnya di Prancis, mengiringi kejatuhan feodalisme, perhambaan, yang semakin lama semakin jelas mengungkapkan perjuangan klas-klas sebagai basis dan kekuatan pendorong dari semua perkembangan.
Setiap kemenangan kebebasan politis atas klas feodal dimenangkan dari perlawanan yang mati-matian. Setiap negeri kapitalis berkembang di atas basis yang kurang-lebih demokratis, diakibatkan adanya perjuangan hidup-mati di antara klas-klas yang ada dalam masyarakat kapitalistik.
Kejeniusan Marx adalah karena ia yang pertama kalinya menyimpulkan pelajaran sejarah dunia dengan tepat dan menerapkan pelajaran itu secara konsisten. Kesimpulan yang dibuatnya menjadi doktrin dari perjuangan klas.
Rakyat selalu menjadi korban dari penipuan dan kemunafikan dunia politik, mereka akan selalu begitu sampai mereka mencoba mencari tahu apa kepentingan dari klas-klas yang ada dalam masyarakat, apa yang ada di balik segala macam ajaran moral, agama dan janji-janji politik. Para pemenang dari proses reformasi dan pembangunan akan selalu terkecoh oleh para pendukung pemerintahan lama, sampai mereka menyadari bahwa setiap lembaga yang lama, sekeji apapun tampaknya, akan tetap dijalankan oleh kekuatan-kekuatan dari klas-klas tertentu yang berkuasa. Hanya ada satu kelompok yang mampu menghantam usaha perlawanan dari klas-klas itu, dan itu bisa ditemukan dalam masyarakat kita, kelompok yang mampu dan harus menggalang kekuatan untuk perjuangan menyingkirkan yang lama dan mendirikan yang baru.
Filosofi materialisme yang dipaparkan Marx menunjukkan jalan bagi proletariat untuk bebas dari perbudakan spiritual yang membelenggu setiap kelas yang tertindas hingga kini. Teori ekonomi yang dijabarkan Marx menjelaskan posisi sebenarnya dari proletariat di dalam sistem kapitalisme.
Organisasi-organisasi independen milik proletariat semakin bertambah banyak jumlahnya, dari Amerika hingga Jepang, dari Swedia hingga Afrika Selatan. Proletariat menjadi semakin tercerahkan dan terdidik dengan membiayai perjuangannya sendiri; mereka membuktikan kesalahan tuduhan-tuduhan masyarakat borjuis; mereka terus memperbaiki strategi perjuangan; menggalang kekuatan dantumbuh tak terbendung.

  • Kalender

    • September 2017
      S S R K J S M
      « Agu    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari